Kasih Sayang Ibu

 Kasih Sayang Ibu

Ilustrasi [AI]

Ia mengenang bahwa dahulu ketika ia memanggilnya, anak itu akan tertawa gembira menyambutnya. Namun kini, ketika ia memanggilnya, anak itu justru menghindar dan enggan berada di dekatnya.

“Mereka telah merampok masa kecilnya yang indah serta mematikan rasa cintanya kepadaku,” keluhnya dengan nada getir. Setelah bertahun-tahun berlalu, mantan suaminya wafat disusul oleh meninggalnya seluruh anggota keluarganya.

Bagi wanita itu, wafatnya mereka seolah menjadi bentuk pertolongan dari Tuhan yang menyelamatkannya dari jurang kesendirian dengan mengembalikan sang putra ke pelukannya. Putranya yang merasa tidak betah tinggal di kota kecil tersebut akhirnya memboyong sang ibu untuk pindah bersama ke ibu kota.

“Ia kini telah tumbuh menjadi seorang pria dewasa yang mapan dan memiliki privasi hidup sendiri yang sangat aku hormati,” jelasnya. Namun pada suatu hari, putranya menyampaikan rencana untuk pergi ke luar negeri demi menikahi seorang gadis asing yang dikenalnya selama masa kuliah.

“Aku memohon dan bersujud di hadapannya agar ia membatalkan niat tersebut,” kenang wanita itu penuh tangis. Sebab ia tahu jika putranya pergi, ia akan kembali ditinggalkan seorang diri dalam kondisi tua renta, meskipun putranya berjanji tidak akan lama di luar negeri.

Satu bulan kemudian, putranya kembali pulang ke rumah dengan membawa serta istri barunya yang asing. Sang ibu awalnya mencoba menerima dan sangat mencintai menantunya tersebut dengan tulus.

Namun ternyata, menantu asingnya itu tidak menyukai besarnya perhatian dan rasa cinta sang ibu yang mendalam kepada putranya. Wanita asing itu mulai membangun tembok pembatas yang tebal di antara ibu dan anak, yang tidak mampu diruntuhkan oleh sang ibu.

Kondisi rumah menjadi sangat dingin hingga menantunya sama sekali tidak mau mengajaknya berbicara. Setelah satu tahun berlalu, putranya memberi isyarat halus bahwa kehadiran sang ibu di rumah tersebut sudah menjadi beban yang berlebih.

Meskipun putranya tidak menyatakannya secara terang-terangan, sang ibu yang sadar diri langsung meminta izin untuk pulang ke rumah lamanya di desa. Ia hanya meminta agar putranya sudi menjenguknya dari waktu ke waktu, dan putranya menyetujui hal itu.

Pada bulan-bulan awal, putranya memang masih terlihat beberapa kali berkunjung ke rumah lamanya di desa tersebut. Namun perlahan, intensitas kunjungan itu berkurang drastis hingga akhirnya berhenti sama sekali tanpa kabar.

Didorong rasa khawatir yang besar, sang ibu nekat pergi sendirian ke ibu kota demi mencari informasi tentang anaknya. Di sanalah ia mendapati kenyataan pahit bahwa putranya telah bermigrasi ke luar negeri mengikuti istrinya, dan ia tidak mendengar kabar tentangnya lagi hingga hari ini.

“Dan seperti yang Anda lihat sendiri sekarang, wahai Tuan, aku adalah wanita tua yang malang dan kehilangan arah hidup,” pungkasnya menutup cerita. Saya tertegun dan mencoba merangkai kata-kata penghibur demi meringankan beban batinnya yang teramat berat.

Namun sebelum saya sempat berbicara, wanita malang itu sudah membalikkan badannya. Ia melangkah pergi meninggalkan saya di tengah hutan tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.[]

Oleh: Abdullah Husain Baghdadidengan penyesuaian-, dalam Al-Arabiyyah lin Nasyiin Jilid 6.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × three =