Kasih Sayang Ibu
Ilustrasi [AI]
SALAH SEORANG sahabat mengundang saya untuk menghabiskan waktu liburan bersamanya di kampung halamannya yang indah nan jauh. Ia tinggal di sebuah kota kecil yang berjarak sekitar setengah hari perjalanan dengan mobil dari ibu kota.
Kami menghabiskan waktu liburan tersebut dengan berbincang-bincang dan bercanda tawa. Selain itu, kami juga sangat menikmati pemandangan pegunungan yang asri.
Cuaca di ibu kota saat itu terasa sangat panas menyengat. Namun, setiap kali kami berkendara mendaki pegunungan, cuaca perlahan berubah menjadi sejuk dan terasa dingin.
Kota tersebut sangat indah karena dikelilingi oleh hutan yang lebat. Rumah-rumahnya pun tampak dibangun tersebar di atas perbukitan.
Kendati demikian, saya merasa sangat lelah sehingga tidak sanggap berkeliling pada hari itu. Ditambah lagi waktu malam sudah menjelang, saya pun lebih memilih untuk beristirahat di dalam rumah sahabat saya.
Kami terus asyik mengobrol mengisi malam yang tenang. Percakapan itu terus berlanjut hingga tiba waktunya bagi kami untuk tidur.
Waktu telah mendekati pukul sepuluh malam, dan saya sedang fokus membaca sebuah buku. Tiba-tiba saja, saya mendengar sayup-sayup suara tangisan seorang wanita.
Suara itu terdengar sangat penuh keputusasaan dan meratap pilu secara berulang-ulang dari waktu ke waktu. Saya segera bangkit dari tempat duduk dan melangkah menuju jendela demi memastikan sumber suara tangisan tersebut.
Ternyata, suara yang memilukan itu berasal dari salah satu rumah penduduk yang berada di dekat sana.
Keesokan paginya, saya langsung menanyakan perihal suara misterius itu kepada sahabat saya. Ia pun menjelaskan, “Itu adalah suara seorang wanita kurang waras yang selalu memanggil-manggil putranya yang tinggal jauh darinya.”
Sahabat saya melanjutkan bahwa ia tidak mengetahui banyak hal tentang latar belakang wanita itu, kecuali fakta bahwa ia dahulu sangat mencintai putranya dengan sepenuh jiwa. Wanita itu menjadi gila setelah sang anak direbut paksa oleh mantan suaminya yang menceraikannya saat ia masih mengandung.
“Namun, apakah suaranya yang meratap itu mengganggumu hingga membuatmu tidak bisa tidur semalam?” tanya sahabat saya kemudian. Saya pun menjawab, “Suara itu sama sekali tidak menggangguku, tetapi benar-benar membuat hatiku merasa sangat sedih.”
