Kasih Sayang Ibu

 Kasih Sayang Ibu

Ilustrasi [AI]

Beberapa hari kemudian, saya pergi berjalan-jalan seorang diri untuk menyegarkan pikiran di salah satu hutan terdekat. Saat itu matahari sudah mulai condong ke ufuk barat bertanda senja akan tiba.

Saya berjalan menelusuri rute sembari mencoba mencapai sebuah batu besar yang terletak cukup jauh di dalam hutan. Namun, secara tidak terduga saya justru berpapasan langsung dengan wanita tersebut.

Ia adalah seorang wanita bertubuh tinggi, berambut pirang, dan diperkirakan berusia sekitar empat puluh tahun. Ia tampak sangat ketakutan saat melihat kehadiran saya di tempat sepi itu.

Ia terlihat bimbang dalam kepanikan, apakah harus tetap diam di tempatnya atau segera berlari menjauh dari hadapan saya. Tak lama kemudian, ia berseru dengan nada penuh amarah, “Apa yang kau inginkan dariku, dan mengapa kau terus membuntutiku ke mana pun aku pergi?!”

Saya segera menyahut dengan lembut, “Maafkan saya, Nyonya, saya sama sekali tidak bermaksud untuk mengejutkan atau mengganggu ketenangan Anda.” Saya menegaskan bahwa saya tidak sedang membuntutinya, melainkan hanya seorang pendatang asing di kota ini yang tidak mengenalnya sama sekali.

Setelah itu, saya berniat melangkah mundur untuk menjauh demi menenangkannya. Namun, tiba-tiba saja ia justru maju mencengkeram pakaian saya dengan raut wajah yang memancarkan keinginan sangat besar untuk berbicara.

Ia memberondong saya dengan rangkaian pertanyaan, “Kau seorang asing di sini? Apakah kau pernah melihatnya?” Ia melanjutkan dengan histeris, “Apakah kau melihat putraku? Katakan kepadaku, apakah dia menyampaikan pesan kepadamu bahwa dia akan segera datang menemuku?”

Wanita itu kemudian menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya. Melihat kondisinya, saya mencoba menenangkannya seraya berkata, “Tenangkanlah pikiran Anda, karena tidak semua orang asing di sini otomatis mengenal putra Anda.”

Saya menawarkan bantuan dengan berkata bahwa jika ia bersedia menceritakan kisah hidupnya, mungkin saya bisa membantunya mencari jalan keluar. Ia menjawab dengan ratapan lirih, “Aku telah kehilangan arah hidup, bagaikan seorang anak kecil yang tersesat dan kehilangan rumahnya.”

Wanita itu menambahkan dengan penuh keputusasaan, “Mereka telah merampas putraku dariku, sehingga kau pun tidak akan mungkin bisa membantuku.”

Ia terdiam sejenak menahan gejolak emosinya, lalu kembali melanjutkan bicaranya. “Semua orang di kota ini mencapku sebagai wanita gila karena aku tidak pernah mengingat apa pun kecuali namanya saja,” ungkapnya pilu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

six + 14 =