LPPOM Raih Indonesia Public Relations Awards 2026 Kategori Corporate Reputation

 LPPOM Raih Indonesia Public Relations Awards 2026 Kategori Corporate Reputation

Jakarta (Mediaislam.id)–Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM) meraih penghargaan Indonesia Public Relations Awards (IPRA) 2026 kategori Corporate Reputation untuk sektor Non-Governmental Organization (NGO).

Penghargaan tersebut diserahkan Founder & CEO The Iconomics, Bram S. Putro, dan Director of Brand, Research & Strategy The Iconomics, Alex Mulya, kepada Direktur Utama LPPOM, Muti Arintawati, di Gedung Sapta Pesona, Balairung Soesilo Soedarman, Kementerian Pariwisata RI, Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Penghargaan itu diberikan The Iconomics Media dengan dukungan Axia Research dalam rangkaian 7th Indonesia Public Relations Awards 2026. Penghargaan kategori Corporate Reputation didasarkan pada hasil riset daring yang melibatkan ribuan responden.

Alex menjelaskan, penilaian reputasi dalam penghargaan tersebut menggunakan tiga parameter utama, yakni Business & Commercial Reputation, People & Leadership Reputation, serta Social & Citizenship Reputation.

“Penghargaan untuk kategori Corporate Reputation diberikan berdasarkan hasil riset online yang melibatkan ribuan responden. Penilaian reputasi dilakukan melalui tiga parameter utama,” ujar Alex.

Bagi LPPOM, penghargaan tersebut tidak sekadar menjadi capaian dalam bidang komunikasi. Apresiasi itu dinilai sebagai refleksi atas kepercayaan publik yang dibangun melalui perjalanan panjang lembaga, termasuk kualitas layanan, kompetensi sumber daya manusia, serta kontribusi dalam memperkuat ekosistem halal Indonesia.

Direktur Utama LPPOM, Muti Arintawati, mengatakan penghargaan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi seluruh insan LPPOM untuk terus menjaga kepercayaan publik.

“Kami bersyukur dan mengapresiasi penghargaan Indonesia Public Relations Awards 2026 ini. Keberhasilan LPPOM meraih kategori Corporate Reputation bukan hanya tentang pencapaian komunikasi, tetapi juga menjadi refleksi atas kepercayaan publik yang dibangun melalui perjalanan panjang, konsistensi layanan, kompetensi, dan kontribusi LPPOM dalam ekosistem halal,” kata Muti.

Menurut Muti, reputasi tidak cukup dibangun melalui narasi atau komunikasi yang baik. Reputasi, kata dia, harus ditopang oleh kinerja dan pengalaman nyata yang dirasakan masyarakat ketika berinteraksi dengan organisasi.

“Reputasi tidak cukup dibangun melalui narasi yang baik. Narasi harus didukung oleh apa yang benar-benar dilakukan dan dirasakan oleh publik,” ujarnya.

Karena itu, LPPOM berkomitmen meningkatkan kualitas layanan, memperkuat komunikasi yang transparan dan edukatif, serta memperluas manfaat bagi masyarakat dan pelaku usaha.

Muti menambahkan, reputasi lembaga bukan hanya menjadi tanggung jawab fungsi komunikasi. Menurut dia, reputasi merupakan akumulasi dari pengalaman publik terhadap seluruh aspek pelayanan LPPOM.

“Setiap insan LPPOM memiliki peran dalam membangun reputasi lembaga. Reputasi bukan hanya tanggung jawab fungsi komunikasi, tetapi merupakan akumulasi dari seluruh pengalaman publik ketika berinteraksi dengan LPPOM,” katanya.

Sebagai lembaga pemeriksa halal, Muti menilai kepercayaan publik menjadi bagian penting dalam pelaksanaan layanan LPPOM. Karena itu, komunikasi tidak hanya diarahkan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga memperkuat transparansi dan pemahaman masyarakat mengenai peran LPPOM dalam ekosistem halal.

Dia berharap penghargaan tersebut tidak membuat LPPOM berhenti pada sebuah pencapaian. Sebaliknya, penghargaan itu diharapkan menjadi motivasi untuk terus berinovasi, meningkatkan kualitas layanan, dan menjaga amanah kepercayaan publik.

“Ke depan, LPPOM akan terus berupaya menjadi lembaga yang profesional, kredibel, adaptif, dan memberikan kontribusi nyata bagi penguatan ekosistem halal Indonesia,” pungkas Muti.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixteen + 5 =