Sisi Lain Salahuddin: Kemanusiaan di Balik Runtuhnya Benteng Yerusalem

 Sisi Lain Salahuddin: Kemanusiaan di Balik Runtuhnya Benteng Yerusalem

Ilustrasi: Sosok Perempuan Nasrani asal Yerusalem yang dimuliakan oleh Islam tapi dizalimi oleh bangsanya sendiri. [AI]

Kemurahan Hati sang Sultan

Kafilah mulai bergerak, dan Maria menengok ke belakang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada kota yang dicintainya itu seraya menangis. Di sekelilingnya, banyak perempuan yang juga menangis meratapi suami mereka yang ditawan atau gugur.

Tiba-tiba, tentara muslim menghentikan kafilah tersebut. Maria mendengar seseorang berkata, “Ini dia Sultan Salahuddin.”

Salahuddin bertanya kepada para perempuan tersebut, “Apa yang kalian inginkan?” Seorang perempuan menjawab, “Suami-suami kami ditawan,” lalu para perempuan itu pun menangis.

Salahuddin segera memerintahkan untuk membebaskan tawanan mereka. Ketika Maria melihat suaminya kembali dalam keadaan sehat, sirnalah semua penderitaan yang dirasakannya.

Ia merasa sangat berutang budi dan hormat kepada lelaki agung ini, Salahuddin. Ia melihat nilai-nilai kemunasiaan dan kebenaran sejati menjelma di dalam diri sang Sultan.

Akhir Tragis di Tangan Bangsa Sendiri

Kafilah tersebut bergerak menuju Tripoli setelah keluar dari wilayah kekuasaan kaum muslim. Namun, ketika mereka tiba di sana, penguasa kota Tripoli justru menutup pintu gerbang tembok kota.

Ia mengirim pasukannya untuk merampok kafilah tersebut dan membunuh kaum lelakinya; suami Maria termasuk di antara mereka yang tewas. Orang-orang yang tersisa dari kafilah itu tersesat di padang pasir, dan sebagian memilih kembali ke wilayah kaum muslim.

Sementara itu, Maria termasuk di antara orang-orang yang tersesat dan berjalan di antara mereka tanpa arah dan akal sehat. Ketika mereka sampai di tembok kota Antiokhia, penduduk setempat menolak mereka, sehingga mereka pun terpaksa kembali ke tanah Islam.

Adapun Maria, ia tetap tinggal di tempatnya dalam keadaan linglung. Seorang pemuda dari kaumnya datang menghampiri dan membawanya ke rumahnya.

Maria langsung tertidur pulas karena keletihan yang amat sangat. Tidak lama kemudian, ia terbangun mendadak karena mendengar suara seorang lelaki yang berkata kepada temannya, “Aku tidak akan menyerahkannya kepadamu.” Lelaki yang lain menyahut, “Dia adalah buruanku!”

Maria menyadari bahwa perselisihan itu adalah tentang dirinya dan kehormatannya.

Ketika melihat kedua lelaki itu berjalan mendekatinya, ia langsung berlari menuju laut, melemparkan anaknya ke dalam air, lalu melompat menyusulnya demi menjaga kesucian dirinya.[]

Karya: Ali At-Tantawi, dalam Al Arabiyah Lin Nasyiin Jiilid 6  – (Dengan beberapa penyesuaian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

thirteen − 3 =