Sisi Lain Salahuddin: Kemanusiaan di Balik Runtuhnya Benteng Yerusalem
Ilustrasi: Sosok Perempuan Nasrani asal Yerusalem yang dimuliakan oleh Islam tapi dizalimi oleh bangsanya sendiri. [AI]
Kebohongan yang Terpatahkan
Maria keluar untuk mencari suami tercintanya. Ia berjalan menembus kegelapan malam mengitari tembok kota dan memperhatikan setiap pintu gerbang.
Di sekelilingnya, ada banyak laki-laki dan perempuan yang juga sedang mencari kerabat atau teman, sama seperti dirinya. Ia mulai bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya tentang keberadaan suaminya, tetapi tidak ada seorang pun yang berhenti untuk memedulikannya.
Kemudian, ia melihat seorang syekh (lelaki tua) yang menjelma sebagai tetua yang diketahuinya, lalu bertanya, “Wahai Ayah! Apakah engkau melihat suamiku?” Namun, lelaki tua itu tidak menjawab.
Maria bertanya lagi, “Wahai Ayah, menurutmu apa yang akan mereka lakukan kepada kita? Apakah mereka akan mengambil anakku lalu memakan dagingnya di hadapan mataku?”
Lelaki tua itu menjawab, “Siapa yang telah mencekokimu dengan kebohongan-kebohongan seperti itu? Sesungguhnya orang-orang muslim adalah kaum yang mulia dan menepati janji, serta raja mereka, Salahuddin, adalah raja terbaik dari seluruh raja yang ada.”
Lelaki tua itu mulai menceritakan keluhuran akhlak orang-orang muslim yang diketahuinya, tetapi Maria masih sulit memercayainya.
Lelaki tua itu menambahkan, “Seandainya mereka membantai kita pun, mereka tidak bisa disebut sebagai penyerang, melainkan bertindak adil. Sebab, ketika kita memasuki Al-Quds seratus tahun yang lalu, kita membantai mereka di dalam rumah, di jalan-jalan, dan di dalam masjid.”
Menatap Peradaban Baru
Pagi telah tiba, dan Maria masih terus mencari suaminya, sementara anaknya tiada henti memanggil, “Papa… Papa…” Ia kemudian bergegas menemui tetangga-tetangga perempuannya.
Kala itu, suara takbir orang-orang muslim bergemuruh di seantero Al-Quds, “Allahu Akbar… Allahu Akbar…” Tidak lama kemudian, sampailah kabar kepada mereka mengenai apa yang sesungguhnya dilakukan oleh orang-orang muslim di dalam kota.
Sesungguhnya orang-orang muslim tidak menyakiti seorang pun dan tidak menjarah harta benda. Orang-orang muslim adalah kaum yang berperadaban tinggi, bukan sekumpulan monster yang kejam.
Maria memperhatikan kaumnya. Sebagian dari mereka ternyata lebih memilih untuk hidup di bawah naungan bendera Islam setelah menyaksikan sendiri keadilan, keamanan, dan tingginya peradaban muslim.
Sementara itu, kelompok yang lain memilih untuk pergi meninggalkan kota. Maria memilih untuk ikut bersama kelompok ini, bukan karena ia membenci orang-orang muslim.
Ia pergi karena tidak sanggup hidup sebatang kara di kota yang setiap sudutnya selalu mengingatkan dirinya pada sang suami yang hilang.
