Sisi Lain Salahuddin: Kemanusiaan di Balik Runtuhnya Benteng Yerusalem

 Sisi Lain Salahuddin: Kemanusiaan di Balik Runtuhnya Benteng Yerusalem

Ilustrasi: Sosok Perempuan Nasrani asal Yerusalem yang dimuliakan oleh Islam tapi dizalimi oleh bangsanya sendiri. [AI]

Kecemasan di Balik Dinding Rumah

MARIA berjalan mondar-mandir di dalam rumah. Ia tidak bisa tenang karena sangat mengkhawatirkan keselamatan suaminya, sembari mendekap erat bayi kecilnya ke dada.

Keputusasaan mulai merundung dirinya hingga terbayang bahwa anaknya telah menjadi yatim tanpa ayah. Air mata pun menetes dari kedua matanya ke wajah sang bayi, membuatnya terjaga dalam ketakutan lalu menangis.

Suaminya pergi ke medan laga untuk menahan pasukan muslim agar tidak memasuki Baitulmaqdis, dan Maria tidak tahu apa yang telah terjadi padanya. Maria sebenarnya adalah seorang perempuan yang pemberani dan tidak mengenal rasa takut.

Namun, Perang Hittin tidak menyisakan sedikit pun keberanian di dalam hati orang-orang Franka (Eropa Barat) karena pertempuran itu telah menghancurkan pasukan mereka, padahal suami Maria adalah pahlawan bagi kaumnya.

Pintu rumah terbuka, membuat jantung Maria berdegap kencang dengan napas yang memburu. Ia tidak tahu apakah itu pembawa kabar gembira atau justru kabar duka.

Saat menoleh, ia mendapati suaminya masuk dalam keadaan sehat walafiat, lalu menceritakan kemenangan mereka. “Orang-orang muslim telah melarikan diri sebelum peperangan dimulai.”

Maria berjalan bersama suaminya menuju gereja agung untuk menyaksikan perayaan kemenangan. Di sepanjang jalan, suaminya terus bercerita tentang “monster-monster” itu, menggambarkan kekejaman agama serta para lelakinya.

Ia juga mendeskripsikan raja mereka, Salahuddin Al-Ayyubi. Maria gemetar ketakutan mendengar gambaran-gambaran mengerikan yang diceritakan suaminya, lalu semakin erat mendekap sang anak.

Mimpi Buruk yang Menjadi Kenyataan

Maria tertidur, tetapi ia tidak mendapati apa pun kecuali mimpi buruk yang mengerikan. Ia merasa seolah-olah kota sedang berguncang dan benteng-bentengnya sedang dihancurkan.

Suara tangisan dan jeritan kaum lelaki kemudian sampai ke telinganya, hingga ia tersadar bahwa itu bukanlah mimpi, melainkan sebuah kenyataan. Ia segera melompat bangun sambil menggendong anaknya, lalu melihat ke arah tempat tidur suaminya, tetapi sang suami tidak ada di sana.

Maria keluar rumah untuk mencari kabar. Orang-orang kemudian memberi tahu dirinya bahwa Salahuddin telah mengepung kota dan berhasil menguasainya.

Berbagai berita mulai berdatangan kepadanya, dan setiap berita terasa lebih buruk dari kabar sebelumnya. Setiap menit berlalu, ia mendengar kabar baru tentang kekuatan serangan pasukan muslim, hingga akhirnya datang berita bahwa bendera putih telah dikibarkan di atas tembok kota.

Gencatan senjata telah disepakati dengan syarat siapa pun yang ingin keluar dari kota diberi waktu selama empat puluh hari. Syarat lainnya adalah setiap laki-laki yang ingin keluar harus membayar tebusan sepuluh dinar, perempuan lima dinar, dan anak-anak dua dinar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four + ten =