Masjid, Akar Sejarah Universitas Islam dan Kiblat Sains Dunia
Ilustrasi [AI]
KITA dapat mengatakan bahwa universitas-universitas di Eropa mulai berjalan mengikuti pola yang sama dengan yang telah dilalui oleh universitas Islam. Ketika universitas Islam memulai sejarahnya dari masjid jami, institusi ini tidak membatasi diri pada kurikulum keagamaan saja.
Kurikulum tersebut terus berkembang seiring berjalannya waktu hingga mampu memadukan sains keduniawian dengan ilmu agama. Para sejarawan tidak mungkin melupakan peran besar masjid jami dalam menyebarkan ilmu, kebudayaan, dan membentuk peradaban Islam.
Masjid jami pada masa itu berfungsi ganda sebagai universitas Islam. Masjid-masjid universitas ini memulai misi keilmuan yang besar di berbagai ibu kota dunia Islam sejak periode awal.
Kehadiran lembaga ini sejak awal merupakan hal alamiah yang selaras dengan fondasi dasar kebudayaan Islam. Kebudayaan tersebut pada hakikatnya berdiri di atas fondasi ilmu Al-Qur’an dan sunah.
Sangatlah wajar jika masjid jami atau masjid utama menjadi pusat bagi pengembangan corak kebudayaan berbasis agama ini. Ketika periode awal berakhir dan corak kehidupan keduniawian mulai tampak dalam daulah Islam, ilmu-ilmu umum mulai mendapatkan tempatnya di samping ilmu agama.
Masjid jami tetap bertahan sebagai wadah dan forum bagi perkembangan ilmu-ilmu baru tersebut. Masjid-masjid jami di berbagai ibu kota besar Islam bertransformasi menjadi sebuah model universitas yang memadukan ilmu agama dan umum secara bersamaan.
Di tempat ini, ilmu bahasa, sastra, dan ilmu penunjang lainnya mulai diajarkan mendampingi ilmu Al-Qur’an dan sunah. Seiring waktu, karakteristik masjid sebagai universitas semakin mengakar kuat.
Masjid tidak lagi sekadar menjadi tempat untuk melaksanakan salat dan ibadah semata. Masjid bertransformasi menjadi sekolah atau universitas yang mempertemukan para ulama terkemuka dengan para penuntut ilmu.
Di luar waktu salat, tempat ini dipenuhi aktivitas belajar dan membaca di bawah bimbingan para guru yang menjadi poros ilmu dan agama pada zamannya. Selama tiga abad pertama Hijriah, masjid jami juga berfungsi sebagai pusat peradilan tertinggi di samping peran keagamaan utamanya.
Para dosen dan mahasiswa menggelar halakah-halakah pelajaran di koridor masjid. Selain itu, para pemimpin atau amir juga menyampaikan khotbah kepada masyarakat pada hari Jumat, serta mengumpulkan warga setiap kali muncul urusan yang penting.
Masjid jami mampu memadukan berbagai fungsi dan tanggung jawab krusial tersebut. Karakteristik layaknya universitas sangat mendominasi beberapa masjid terkenal dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan Arab-Islam.
Contoh nyatanya adalah Masjid Amru dan Masjid Al-Azhar di Mesir, Masjid Al-Qarawiyyin di Fes, serta masjid-masjid di Kordoba, Sevilla, dan Toledo di Andalusia. Sebelum membahas masjid-masjid tersebut, kita harus mengingat bahwa Masjid Nabawi di Madinah adalah pelopor masjid universitas sejak zaman awal.
