Peluncuran Buku Kiai Ma’ruf Amin Jadi Panggung Pertemuan Para Bakal Caketum PBNU

 Peluncuran Buku Kiai Ma’ruf Amin Jadi Panggung Pertemuan Para Bakal Caketum PBNU

KH Ma’ruf Amin menyalami Wakil Ketua Umum MUI, KH Marsudi Syuhud saat peluncuran buku di Jakarta. [ANTARA]

Jakarta (Mediaislam.id)—Mantan Wakil Presiden RI sekaligus Mustasyar PBNU, KH Ma’ruf Amin, resmi meluncurkan buku terbarunya berjudul “Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma’ruf Amin”.

Momen peluncuran karya literasi yang digelar di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, ini menyedot perhatian publik lantaran turut dihadiri oleh deretan tokoh yang digadang-gadang akan bertarung dalam bursa pemilihan Ketua Umum PBNU pada Muktamar Ke-35 NU mendatang.

Sejumlah figur bakal calon Ketua Umum PBNU yang tampak hadir di lokasi antara lain Wakil Ketua Umum MUI KH Marsudi Syuhud, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), dan Menteri Agama KH Nasaruddin Umar.

Selain itu, hadir pula Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Pengasuh Ponpes API Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), serta Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon KH Imam Jazuli.

“Selain Ketua Umum, juga hadir banyak calon ketua umum. Ada yang sudah diumumkan, ada yang sudah deklarasi, dan ada yang belum deklarasi. Saya ingin menyampaikan terima kasih,” ujar Kiai Ma’ruf dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Kiai Ma’ruf menjelaskan bahwa buku terbarunya tersebut mengulas tiga pilar utama Nahdlatul Ulama, yaitu fikroh (cara berpikir), manhaj (metode), dan harakah (gerakan). Keprihatinannya terhadap praktik keagamaan warga yang kerap sebatas menjalankan tradisi (amaliyah) tanpa memahami arah perjuangan organisasi menjadi latar belakang lahirnya buku ini.

Ia menegaskan bahwa NU merupakan sistem yang hidup sehingga tidak boleh dipahami sebatas organisasi administratif belaka.

“Jangan dibiarkan NU itu dilepas tanpa arah, tanpa irsyadat (petunjuk), tanpa taujihat (bimbingan),” kata Kiai Ma’ruf seperti dilansir Antara.

Lebih lanjut, Kiai Ma’ruf menggarisbawahi pentingnya memegang teguh khittah atau garis perjuangan para pendiri NU dalam berpikir, bersikap, maupun bertindak. Gerakan NU dinilainya harus mengemban tiga fungsi utama, yakni himayah (menjaga), ishlah (memperbaiki), dan taqwiyah (menguatkan), yang diterapkan dalam bidang keagamaan (harakah diniyyah), kebangsaan (harakah wathaniyyah), dan ekonomi (harakah iqtishadiyyah).

Sejalan dengan pandangan tersebut, Wakil Ketua Umum MUI KH Marsudi Syuhud mengapresiasi peluncuran buku ini sebagai momentum penting untuk memperbarui NU memasuki abad keduanya. Kiai Marsudi yang juga mengantongi dukungan dari sejumlah PWNU dan PCNU untuk maju sebagai calon Ketum PBNU menekankan pentingnya rekam jejak karya bagi seorang tokoh.

“Yang terpenting dalam hidup itu harus mempunyai legacy, atau sebutannya para kiai adalah amal saleh. Amal saleh itu jika ditinggalkan, walaupun kita sudah meninggal, masih akan terus diingat dan memberikan manfaat,” ujar Kiai Marsudi.

Ia menilai Kiai Ma’ruf sebagai sosok pemikir ulung yang mampu mengolah gagasan teoretis hingga mewujud menjadi gerakan konkret yang berdampak nyata bagi kemaslahatan masyarakat luas.

“(Pembuat gagasan) itu akan naik tingkatannya. Setelah jadi pikiran dan kalimat-kalimatnya Kiai Ma’ruf, dipikirkan oleh banyak orang. Orang lama-lama akan fokus, lalu menjadi passion,” tuturnya.

Kiai Marsudi menambahkan, ketika sebuah pemikiran telah dihayati bersama oleh jamiyah, gagasan tersebut akan menjelma menjadi perilaku pergerakan yang solid dan membuahkan hasil nyata bagi umat dan bangsa. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − 7 =