Usir Paksa Warga, Pasukan Israel Sulap Rumah di Hebron Jadi Pos Militer

 Usir Paksa Warga, Pasukan Israel Sulap Rumah di Hebron Jadi Pos Militer

Rumah warga Palestina di Hebron. [AA]

Ramallah (Mediaislam.id)-Pasukan Israel mengubah rumah-rumah warga Palestina menjadi barak dan pos pantau setelah memaksa penduduk meninggalkan Kota Hebron pada hari Sabtu (24/10). Insiden ini terjadi pada hari kedua operasi militer di wilayah selatan Tepi Barat yang diduduki, lapor kantor berita resmi Palestina, Wafa.

Pasukan tersebut mengambil alih rumah-rumah di kawasan Khallat Manna dan Dahiyat al-Zaytoun di Hebron selatan untuk dijadikan barak. Hal ini dilaporkan oleh Wafa dengan mengutip sejumlah sumber di lapangan.

Mereka juga memaksa penduduk keluar dari rumah di lingkungan lain dan menggunakan properti tersebut sebagai pos pantau militer. Pengusiran ini menyusul pemindahan paksa ratusan keluarga yang telah berlangsung sejak Jumat, di tengah penggerebekan besar-besaran, penutupan jalan, dan pembatasan pergerakan yang sangat ketat.

Di dekat Betlehem, pasukan Israel memblokir jalan-jalan tanah yang mengarah menuju kota Tuqu. Mereka dengan beringas menembakkan gas air mata dan granat kejut ke arah kendaraan warga Palestina yang berupaya melintasi jalur alternatif tersebut, lapor Wafa.

Badan berita tersebut menyatakan bahwa penutupan jalan yang terus berlangsung di seluruh Betlehem dan kota-kota sekitarnya sangat menyulitkan warga. Penduduk Palestina kini terpaksa bergantung pada jalan tak beraspal agar tetap bisa bepergian antarkomunitas.

Pasukan Israel telah menutup rapat Hebron dan wilayah Halhul di dekatnya pada Jumat setelah dua warga Palestina menyerang pos pemeriksaan Israel. Dua tentara Israel tewas dan tiga lainnya terluka, sementara pasukan Israel menembak mati kedua penyerang tersebut, menurut data dari otoritas penjajah.

Militer mengumumkan pada hari Jumat bahwa operasinya dapat berlangsung selama beberapa hari ke depan. Operasi ini akan melibatkan penggeledahan rumah, interogasi, serta upaya pencarian senjata dan apa yang mereka sebut sebagai “infrastruktur teroris.”

Wilayah Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, telah menyaksikan eskalasi serangan militer Israel dan kekerasan pemukim penjajah. Peningkatan kekerasan ini terjadi sejak dimulainya perang genosida Israel di Jalur Gaza pada bulan Oktober 2023.

Serangan-serangan tersebut meliputi tindakan pembunuhan dan penahanan warga Palestina, serta penghancuran rumah dan bangunan lainnya. Tentara Zionis juga tercatat membakar masjid dan kendaraan, meratakan lahan pertanian, mencegah petani mengakses ladang, serta menggusur komunitas Palestina seiring dengan perluasan permukiman ilegal. [Anadolu Agency[