Menhan Israel Akui Usir Paksa 2.000 Warga Palestina dari Hebron

 Menhan Israel Akui Usir Paksa 2.000 Warga Palestina dari Hebron

Seorang tentara Israel di pos pemeriksaan utara yang diblokir di Hebron, di dekat mobil-mobil yang hancur. [foto: AFP]

Yerusalem (Mediaislam.id)–Menteri Pertahanan Israel mengakui pada hari Sabtu (24/10) bahwa pasukan Israel telah mengusir paksa sekitar 2.000 warga Palestina dari rumah mereka. Pengusiran massal tersebut terjadi di Hebron, wilayah selatan Tepi Barat yang diduduki.

Menteri Pertahanan Israel Katz mengatakan kepada lembaga penyiaran publik KAN bahwa penduduk yang mengungsi tidak akan diizinkan kembali. Kebijakan larangan ini berlaku sampai apa yang ia sebut sebagai “infrastruktur Hamas” di kota tersebut berhasil dibongkar secara total.

Pernyataannya muncul tepat saat operasi militer Israel di kota Hebron memasuki hari kedua. Buntut dari operasi tersebut, sektor pendidikan dan berbagai layanan krusial kota menjadi sangat terganggu.

Direktorat Pendidikan Hebron terpaksa meliburkan kegiatan sekolah pada hari Minggu dan Senin demi keselamatan siswa. Sementara itu, Universitas Hebron dan Universitas Terbuka Al-Quds memindahkan jadwal kuliah hari Minggu secara daring (online).

Pemerintah kota menyatakan bahwa timbunan sampah mulai menumpuk di berbagai sudut jalan. Hal ini terjadi karena penutupan pintu masuk kota mencegah akses truk pengangkut ke tempat pembuangan akhir yang berada di luar wilayah tersebut.

Sebelumnya, pasukan Israel menutup rapat Hebron dan kawasan Halhul pada hari Jumat setelah dua warga Palestina menyerang pos pemeriksaan militer. Dua tentara Israel tewas dan tiga lainnya terluka, sementara pasukan Israel menembak mati kedua penyerang tersebut, demikian laporan versi militer Zionis.

Militer telah mengumumkan pada Jumat malam bahwa mereka meluncurkan operasi pengamanan yang diperkirakan akan berlangsung selama beberapa hari. Operasi berskala besar ini melibatkan pasukan keamanan dalam negeri Shin Bet serta aparat Polisi Perbatasan.

Wilayah Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, kian mencekam akibat eskalasi serangan militer Israel dan kekerasan pemukim. Situasi ini terus memburuk sejak dimulainya perang genosida yang dilancarkan Israel di Jalur Gaza pada Oktober 2023.

Serangan-serangan brutal tersebut mencakup pembunuhan, penahanan sewenang-wenang warga Palestina, hingga penghancuran rumah dan fasilitas umum. Militer penjajah juga kerap membakar masjid, meratakan lahan pertanian dengan buldoser, mencegah petani merawat ladang, serta memindahkan paksa komunitas Palestina demi perluasan permukiman ilegal. [Anadolu Agency]