Ketua Umum Ikadi: Dakwah Harus Membina, Bukan Menghina
Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) KH Ahmad Kusyairi Suhail.
Jakarta (Mediaislam.id)–Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) KH Ahmad Kusyairi Suhail mengingatkan para dai dan khatib agar tidak menjadikan candaan sebagai alasan untuk merendahkan atau menyakiti orang lain. Menurut dia, dakwah harus mengedukasi, membina, dan mengajak kepada kebaikan, bukan menghina maupun mengejek.
“Materi-materi khotbah yang disampaikan, ceramah, dan lain sebagainya itu harus betul-betul membina, bukan menghina. Mereka harus betul-betul mengajak, bukan mengejek,” kata Kiai Kusyairi kepada media, Sabtu (24/10/2026).
Ia menyampaikan hal tersebut di tengah sorotan terhadap pendakwah yang menggunakan candaan, tetapi justru menyakiti perasaan orang lain. Menurut dia, seorang dai tidak boleh menghina gender, kelompok, atau merendahkan pihak tertentu dengan alasan apa pun, termasuk untuk melucu.
“Enggak boleh menghina. Terlepas itu canda, dengan alasan apa pun, enggak boleh menghina gender, menghina kelompok, merendahkan. Terlepas alasan apa pun,” ujarnya.
Kiai Kusyairi menegaskan, kehati-hatian dalam berdakwah semakin penting di era media sosial karena pesan yang disampaikan seorang pendakwah dapat tersebar luas dan berdampak kepada banyak orang.
Ia mengingatkan bahwa dakwah pada dasarnya merupakan ajakan kepada kebaikan. Karena itu, materi ceramah seharusnya mengandung tuntunan dan nilai-nilai positif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun kehidupan bermasyarakat.
“Tidak boleh mentang-mentang mimbar itu kita sebagai penguasa mimbar lalu kita bisa bicara apa saja, tentu saja harus dibatasi. Dan di sinilah pentingnya kompetensi. Di sinilah pentingnya dakwah itu berisi tuntunan, bukan sekadar tontonan,” kata dia.
Menurut Kiai Kusyairi, seorang dai juga memiliki tanggung jawab moral karena masyarakat cenderung menjadikan pendakwah sebagai teladan. Apa yang disampaikan di mimbar dapat didengar, dipercaya, bahkan diikuti oleh jamaah.
Karena itu, ia mengingatkan para dai agar berhati-hati dalam menyampaikan pesan, termasuk ketika menggunakan humor dalam ceramah.
“Bukan berarti tidak boleh canda, tetapi dalam hadis al-mizaahu laa ya’tii bi khair, banyaknya dalam bercanda itu juga mendatangkan kebaikan dan tentu saja ada batasan-batasannya,” ujarnya.
Ia berharap para pendakwah dapat menghadirkan dakwah yang menyejukkan dan memberikan solusi bagi persoalan umat. Menurut dia, dakwah harus mampu membangun simpati, bukan menebarkan kebencian.
“Bagaimana hadir dengan materi-materinya tampil memberikan solusi dan menghadirkan simpati, bukan menebar benci. Ini yang selalu kita ingatkan,” kata Kiai Kusyairi.
Tingkatkan Kompetensi Khatib
Pesan tersebut sejalan dengan visi Ikadi untuk menjadi organisasi masyarakat Islam yang merekatkan umat dan bangsa melalui dakwah Islam rahmatan lil ‘alamin.
Kiai Kusyairi menjelaskan, Ikadi menggelar Pelatihan Nasional Khatib Ikadi sebagai bagian dari program peningkatan kompetensi khatib di seluruh Indonesia. Program ini ditujukan untuk memperluas jangkauan pembinaan dai dan khatib, sekaligus memperkuat kemampuan mereka dalam menyampaikan pesan keagamaan.
Sebelumnya, Ikadi telah menyelenggarakan pelatihan bagi hampir 1.000 trainer dari berbagai daerah. Para trainer tersebut kemudian bertugas melatih para khatib di wilayah masing-masing.
Pelatihan itu menjangkau 38 provinsi serta lebih dari 400 pengurus daerah di tingkat kabupaten dan kota.
Selain kompetensi berdakwah, Ikadi juga membekali para khatib dengan wawasan kebangsaan. Kiai Kusyairi menilai, dai perlu hadir di tengah masyarakat untuk membantu memberikan solusi atas berbagai persoalan keumatan dan kebangsaan.
Menurut dia, penguatan spiritual dapat membantu masyarakat menghadapi berbagai ujian dengan sabar, tabah, dan istiqamah. Para dai juga diharapkan mampu memberikan edukasi, menumbuhkan semangat positif, serta meningkatkan etos kerja masyarakat.
Ikadi, lanjut dia, juga menyelenggarakan Pelatihan Mubaligh Ikadi (PMI) selama tiga bulan yang dilaksanakan setiap pekan pada Sabtu di kantor Ikadi. Program tersebut antara lain membahas cara berdakwah dan menyampaikan pesan yang padat dalam waktu terbatas.
Kiai Kusyairi berharap peningkatan kompetensi tersebut membuat para dai dan khatib semakin mampu menyampaikan dakwah yang sesuai dengan tuntunan agama, menjadi teladan bagi masyarakat, serta berkontribusi bagi kemajuan umat, bangsa, dan negara.*
