Sejarah Kodifikasi Al-Qur’an

 Sejarah Kodifikasi Al-Qur’an

Ilustrasi: Awal mula proses kodifikasi Al-Qur’an. [AI]

Beberapa waktu berselang, pasukan muslim tengah berjuang di wilayah Armenia dan Azerbaijan. Karena para prajurit berasal dari berbagai wilayah yang berbeda, perselisihan mulai muncul dengan klaim dari tiap kelompok, “Dialekku lebih baik dari dialekmu.”

Menanggapi fenomena ini, Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengumpulkan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menawarkan gagasan tentang “Mushaf Bersatu” (Al-Mushaf al-Muwahhad).

Proyek ini bertujuan menyatukan penulisan mushaf ke dalam satu dialek induk agar umat Islam bersatu di atasnya. Gagasan tersebut disambut baik oleh para sahabat, sehingga Utsman segera mengeksekusinya dan memanggil kembali Zaid bin Thabit untuk memimpin tugas baru ini.

Zaid bin Thabit memulai tugas barunya dengan penuh ketelitian. Ia menyalin Mushaf al-Imam (Mushaf Utsmani) dari lembaran-lembaran yang sebelumnya berada di bawah penjagaan Ummul Mukminin Hafsah, lalu menyelaraskan hal-hal yang belum terstruktur pada lembaran lama.

Melalui dedikasi ini, Zaid bin Thabit berhasil menorehkan dua pencapaian agung dalam sejarah Islam. Ia adalah sosok yang menghimpun Al-Qur’an pada masa Abu Bakar as-Siddiq, sekaligus tokoh utama yang menyalinnya kembali atas perintah Utsman bin Affan.

Melalui proses panjang tersebut, standarisasi seluruh mushaf berhasil diwujudkan ke dalam Mushaf al-Imam milik Utsman. Beberapa salinan resmi kemudian digandakan dari mushaf induk ini untuk dikirimkan ke berbagai wilayah Islam, sementara lembaran-lembaran lain yang berbeda dibakar demi menjaga kemurnian.

Dengan demikian, kodifikasi mushaf berhasil disatukan dan janji Allah pun benar-benar terbukti: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami pula yang memeliharanya.” (Q.S. Al-Hijr: 9)

Dr. Abdullah asy-Syarif – (dengan penyesuaian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 + fifteen =