Pondok Pesantren Darunnajah Pertahankan Nilai Gontor di Tengah Dinamika Metropolitan
Foto: Antara
Jakarta (Mediaislam.id)–Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta terus mempertahankan sistem, kultur, dan nilai-nilai pendidikan Islam yang berakar dari Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Nilai-nilai tersebut tetap diterapkan di tengah dinamika kehidupan masyarakat metropolitan.
Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah sekaligus Presiden Universitas Darunnajah, Assoc. Prof KH Sofwan Manaf, mengatakan hubungan Darunnajah dengan Gontor memiliki ikatan historis dan ideologis yang kuat.
“Hubungan tersebut lahir dari kepercayaan antar sahabat, restu para kiai pendiri (Trimurti Gontor), serta dedikasi empat generasi keluarga besar perintisnya,” kata Sofwan di Jakarta, Selasa (22/9/2026) seperti dikutip dari laman Antara.
Ia menegaskan hubungan antara Darunnajah dan Gontor bukan sekadar kerja sama kelembagaan.
“Gontor hadir di Darunnajah bukan sebagai cabang, melainkan lewat keluarga, guru, dan tata kelola,” katanya.
Menurut Sofwan, nilai-nilai yang diwariskan Gontor dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat metropolitan yang modern tanpa kehilangan jati diri.
“Orang tua kami, KH Abdul Manaf Mukhayyar, terikat dengan visi para pendiri Gontor, asas wakafnya, hingga Islamnya yang progresif,” kata dia.
Ia menjelaskan, keterikatan tersebut kemudian mendorong keluarga besar KH Abdul Manaf Mukhayyar untuk mengirim anak, cucu, hingga cicitnya menimba ilmu di Gontor.
Jejak hubungan tersebut bermula sejak 1958 melalui jaringan sahabat dan tokoh Betawi. Putra sulung KH Abdul Manaf Mukhayyar, Saifuddin Arief, dikirim ke Gontor pada Desember 1959.
Sejak saat itu, menurut Sofwan, kaderisasi keluarga di Ponorogo terus berlangsung. Hingga 2026, tercatat 63 anggota keluarga besar KH Abdul Manaf Mukhayyar, mulai dari anak, cucu, cicit hingga menantu, merupakan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor.
Pada peringatan Seabad Gontor 2026, tradisi tersebut juga masih berlanjut. Generasi cicit keluarga tetap meneruskan tradisi pendidikan di Gontor, sementara sembilan anggota keluarga lainnya masih aktif menjadi santri di Ponorogo.
Adopsi Sistem KMI
Nilai-nilai Gontor juga diterapkan dalam sistem pendidikan Darunnajah. Kurikulum dan pola pengajaran di pesantren tersebut mengadopsi pola Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI) Gontor yang kemudian disesuaikan menjadi Tarbiyatul Mu’allimin/Mu’allimat al-Islamiyah (TMI).
Penyesuaian tersebut tetap mempertahankan esensi pembentukan karakter, kedisiplinan, penggunaan bahasa Arab dan Inggris, serta tradisi kelembagaan pesantren.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah KH Hadiyanto Arief mengatakan sistem wakaf dan kemandirian ekonomi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga independensi pesantren.
“Kekuatan moral dan keberanian para kiai dalam menyatakan kebenaran timbul dari kemandirian,” kata dia.
Ia mengatakan independensi pesantren dibangun melalui kemandirian sehingga tidak bergantung pada bantuan pihak luar maupun pemerintah.
Menurut Hadiyanto, keberadaan Darunnajah di Jakarta menunjukkan bahwa sistem pendidikan pesantren yang berdikari, modern, dan berkarakter tetap dapat diterapkan di tengah kehidupan metropolitan.
Model pendidikan tersebut, lanjut dia, turut berperan dalam menjaga pesantren sebagai benteng moral sekaligus pusat kemajuan umat yang inklusif dan mandiri.
Pada momentum peringatan 100 tahun Gontor, Pondok Pesantren Darunnajah juga memperoleh penghargaan 100 Tahun Award. Penghargaan tersebut diberikan sebagai salah satu pesantren rintisan alumni tertua yang dinilai konsisten meneruskan nilai-nilai perintis Gontor di kawasan metropolitan.
“Pada momen peringatan seratus tahun Gontor, Pondok Pesantren Darunnajah dianugerahi penghargaan bergengsi 100 Tahun Award sebagai salah satu pesantren rintisan alumni tertua yang paling istiqamah meneruskan estafet nilai-nilai perintis Gontor di kawasan metropolitan,” kata dia.*
