Mencari Rezeki, Menjemput Takdir
Oleh:
Dr. KH. Zakky Mubarak, MA
DALAM pengalaman kehidupan sehari-hari, dijumpai sebagian orang yang berusaha seadanya. Namun demikian, mereka memiliki rezeki yang berlimpah, seolah-olah rezeki itu mengejarnya. Sebaliknya, ada sebagian orang yang berusaha maksimal dalam mencari rezeki, tetapi apa yang diperolehnya sangat sederhana. Inilah kenyataan kehidupan yang kita jumpai dalam masyarakat.
Kedua kelompok itu sesungguhnya telah menerima ketetapan takdir dari Allah SWT. Ada sebagian orang yang terus mencari rezeki, mengejarnya dengan sungguh-sungguh, tetapi ada juga yang dikejar oleh rezekinya. Dua kelompok itu sebetulnya merupakan contoh dari kehidupan kita agar mau belajar dengan baik.
Mereka yang memperoleh rezeki yang berlimpah dan sangat mudah itu sesungguhnya pada awal mulanya berusaha dengan keras untuk memperoleh rezeki tersebut. Mereka mengembangkan beberapa teori yang dimiliki untuk menyukseskan usahanya sehingga menjadi sukses.
Kelompok yang kedua, atau yang berusaha bersungguh-sungguh mencari rezeki sedangkan rezekinya diperoleh secara sederhana, biasanya adalah para pencari rezeki yang masih berada pada awal usahanya sehingga belum berhasil dengan baik.
Bagi mereka yang sudah memperoleh rezeki yang berlimpah, hendaknya berusaha meningkatkan ibadah dan amal salehnya dengan sungguh-sungguh sehingga rezeki yang diperolehnya menjadi sangat bermanfaat. Ia tidak lagi menyibukkan diri mencari kemewahan duniawi, tetapi menyibukkan diri untuk beribadah dan bertakarrub kepada Allah SWT.
Mereka yang berada dalam kelompok ini kemudian masih menyibukkan diri mencari harta tergolong orang-orang yang tertipu dalam kehidupannya. Mereka tidak akan memperoleh kebahagiaan batin dalam kehidupannya. Dengan demikian, banyaknya harta juga tidak membahagiakannya.
Mereka yang berada dalam kelompok kedua, yaitu yang terus berusaha bersungguh-sungguh, tetapi rezekinya tetap dalam keadaan sederhana, harus meningkatkan usahanya dengan tekun dan ulet sampai memperoleh hasil yang memuaskan, baik lahir maupun batin.
Mereka yang berada dalam kelompok ini tidaklah dibenarkan untuk meninggalkan usahanya, kemudian hanya semata-mata mengejar kehidupan akhirat dengan beribadah secara berlebihan sehingga usahanya menjadi terlantar. Kelompok ini harus terus berusaha, disertai dengan ibadah secukupnya, sehingga kewajiban-kewajiban dalam berkeluarga dan bermasyarakat dapat dilaksanakan.
Kelompok pertama harus mengarahkan dirinya pada kegiatan ibadah dan meningkatkan kehidupan zuhudnya dalam aktivitas sehari-hari. Nabi SAW ditanya oleh salah seorang sahabatnya agar ia dicintai oleh Allah dan dicintai sesama umat manusia.
يَا رَسُولَ اللهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِيَ النَّاسُ، فَقَالَ: ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ
“Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amal yang apabila aku mengerjakannya, Allah mencintaiku dan manusia juga mencintaiku.” Beliau bersabda, “Bersikaplah zuhud terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu. Dan bersikaplah zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah, 4102).
Orang-orang Muslim yang telah dikaruniai rezeki yang cukup dan menjalani kehidupan seadanya termasuk orang-orang yang memperoleh keutamaan, baik dalam kehidupan dunia maupun dalam kehidupan akhirat.
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang telah Dia berikan kepadanya.” (HR. Muslim, 1054).
Dari dua kelompok manusia sebagaimana disebutkan di atas, keduanya merupakan takdir dari Allah SWT. Jalan yang terbaik adalah menerima takdir itu dengan tulus dan menjalani kehidupan sesuai dengan apa yang ditakdirkan-Nya, baik menjadi kelompok pertama maupun menjadi kelompok kedua.*
