Perkuat Ukhuwah, Ponpes Al Badar Bogor Gelar Halalbihalal
Bogor (Mediaislam.id) – Pondok Tahfidz dan Tafsir Al Badar menggelar kegiatan silaturahmi sekaligus halalbihalal pasca Idulfitri 1447 Hijriah pada Sabtu (4/4/2026) di Cilendek, Kota Bogor.
Acara ini mengusung tema “Kita Pererat Silaturahmi untuk Menghadapi Tantangan Global” dan dihadiri sejumlah tokoh serta pimpinan organisasi masyarakat Islam.
Pimpinan Ponpes Al Badar, Dr KH Badruddin Subhki, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh undangan yang hadir, khususnya dari Khittah Ulama Nusantara (KUN) serta para pimpinan ormas Islam.
“Kita berkumpul dalam suasana penuh kebersamaan untuk saling memaafkan dan mempererat silaturahmi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Pondok Al Badar memiliki kekhasan sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya fokus pada tahfidz Al-Qur’an, tetapi juga pada kajian tafsir, sehingga diharapkan mampu melahirkan generasi yang memahami Al-Qur’an secara mendalam.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Badruddin mengisahkan asal-usul tradisi halalbihalal yang menurutnya memiliki nilai historis penting dalam menjaga persatuan bangsa. Ia merujuk pada cerita yang disampaikan KH Fahmi Hasyim dari Buntet Cirebon, bahwa tradisi halalbihalal pertama kali digagas oleh KH Abdul Wahab Hasbullah (Pendiri NU).
Gagasan itu muncul atas permintaan Soekarno pada masa awal kemerdekaan, ketika Indonesia menghadapi situasi internal yang tegang, termasuk konflik ideologi dan ancaman disintegrasi.
“KH Wahab Hasbullah mengusulkan silaturahmi dengan pendekatan yang menyejukkan, yang kemudian dikenal sebagai halalbihalal, untuk meredakan perpecahan,” jelasnya.
Sejak saat itu, tradisi halalbihalal menjadi sarana silaturahmi, rekonsiliasi, dan penguatan persatuan, bahkan dianjurkan untuk dilaksanakan secara luas di masyarakat dan instansi pemerintahan.
Kiai Badruddin juga mengingatkan pentingnya menjaga hubungan antarsesama, mengingat dalam ajaran Islam terdapat peringatan bagi orang yang merugi karena amalnya sia-sia akibat menyakiti orang lain.
“Ada manusia yang bangkrut bukan karena tidak punya harta, tetapi karena membawa pahala ibadah namun pernah menyakiti orang lain. Karena itu, saya mengadakan halalbihalal ini untuk saling meminta maaf,” ungkapnya.
Dalam acara tersebut, hadir penceramah KH Didin Bahrudin yang menegaskan bahwa halalbihalal merupakan budaya khas Indonesia yang lahir dari kreativitas ulama dalam menyampaikan dakwah, sebagaimana dicontohkan para Walisongo.
Menurutnya, meskipun halalbihalal tidak secara eksplisit terdapat dalam syariat, esensi utamanya adalah silaturahmi yang merupakan kewajiban setiap Muslim.
“Halalbihalal itu bentuk luarnya, sedangkan isinya adalah silaturahmi. Dalam Islam, silaturahmi adalah kewajiban,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa silaturahim bertujuan menyambung kasih sayang sesama Muslim dan mencegah terjadinya perselisihan. Oleh karena itu, momentum halalbihalal harus dimanfaatkan untuk saling memaafkan.
“Setiap manusia pasti pernah salah dan mengalami konflik. Bahkan dalam kisah para nabi pun terdapat perselisihan, seperti konflik anak dalam keluarga Nabi Adam dan Nabi Yakub,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, hadir juga Sekjen KUN Prof. Dr. Ahmad Baidowi, yang menyoroti pentingnya kepedulian umat Islam terhadap dinamika dunia internasional.
Ia menyinggung konflik yang terjadi antara Iran dan kelompok Zionis Israel, yang menurutnya menjadi perhatian umat Islam secara global.
“Terlepas dari perbedaan Sunni atau Syiah, kita melihat keberanian Iran dalam menghadapi Zionis. Umat Islam harus peduli dan mendoakan agar mereka diberi kemenangan,” ujarnya.
Alumni Pondok Pesantren Darul Falah Bogor itu juga mengajak jamaah untuk memperbanyak doa, termasuk mendoakan lembaga-lembaga pendidikan Islam seperti Al Badar agar terus berkembang dan memberikan manfaat bagi umat.
Melalui kegiatan ini, Ponpes Al Badar berharap nilai-nilai silaturahmi dan saling memaafkan dapat terus terjaga di tengah masyarakat. Selain sebagai tradisi, halalbihalal juga diharapkan menjadi sarana memperkuat ukhuwah Islamiyah dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. []
