Pemadaman Listrik Lumpuhkan Rumah Sakit Gaza

 Pemadaman Listrik Lumpuhkan Rumah Sakit Gaza

RS Al Shifa di Gaza kembali beroperasi.

Penggunaan oli mesin non-orisinal akibat blokade juga telah menyebabkan generator mengalami kerusakan mekanis. Hal tersebut berdampak buruk pada penurunan performa alat penyuplai listrik itu secara drastis.

Kondisi memprihatinkan ini terjadi saat Israel terus melanjutkan serangan udaranya hampir setiap hari di Gaza. Setidaknya 1.092 orang tewas dan 3.507 lainnya terluka sejak apa yang disebut “gencatan senjata” mulai berlaku pada Oktober 2025.

Pemadaman listrik rutin yang diakibatkannya telah membuat rumah sakit menjadi setengah tidak berfungsi. Hal ini memengaruhi ribuan pasien dan staf medis di Gaza, di tengah gelombang baru pasien akibat pengeboman dan penyebaran penyakit yang terus berlanjut.

Sebagian besar generator utama di Rumah Sakit Al-Aqsa tidak dapat beroperasi lagi sejak awal Mei 2026. Padahal, saat itu para dokter dan perawat sudah sangat kewalahan untuk menangani pasien yang membeludak.

Kondisi itu memaksa pihak rumah sakit menggunakan generator sekunder dan energi surya. Pilihan lainnya, mereka terpaksa mengurangi berbagai aktivitas operasional medis.

Ahli bedah Omar al-Ashtal mengatakan bahwa tim medis di rumah sakit tersebut berjuang keras untuk memberikan layanan yang layak dan esensial. Pasokan listrik yang tidak menentu menjadi kendala utama, terutama di ruang operasi yang sangat bergantung pada stabilitas daya.

Para ahli bedah dan dokter terpaksa mempersingkat atau menunda operasi-operasi penting sampai pasokan energi yang stabil tersedia. Keputusan dilematis ini membawa konsekuensi serius bagi keselamatan para pasien.

“Apa yang kita saksikan hari ini bukan hanya kekurangan listrik, melainkan krisis kumulatif yang mencakup generator yang aus, kekurangan bahan bakar, dan ketiadaan suku cadang untuk pemeliharaan,” kata al-Ashtal kepada Al Jazeera. “Kelanjutan dari situasi ini mengancam kemampuan rumah sakit untuk merespons keadaan darurat dan meningkatkan penderitaan pasien yang menunggu perawatan.”

Unit perawatan intensif (intensive care unit atau ICU), ruang operasi, departemen anestesi, dan perawatan bayi baru lahir menjadi sektor yang paling terpukul oleh krisis listrik terbaru ini. Gangguan apa pun pada departemen-departemen tersebut dapat menyebabkan komplikasi serius yang mengancam jiwa pasien, termasuk bayi di dalam inkubator.

Putusnya jaringan internet dan sistem elektronik juga menghalangi tim administrasi maupun perawat untuk memenuhi tugas penting mereka. Mereka kesulitan untuk mengakses atau mencatat data pasien, melacak perkembangan kasus, serta berkomunikasi antardepartemen.

Perawat Hamza Nawas mengatakan bahwa tim medis terus berusaha mengatasinya sebaik mungkin di tengah situasi sulit ini.

“Kami hidup di bawah tekanan setiap hari karena krisis listrik ini. Pada malam hari, kesulitan semakin bertambah, terutama dengan suhu udara yang meningkat dan terganggunya beberapa layanan terkait listrik,” ujarnya kepada Al Jazeera. “Kami mencoba sebisa mungkin untuk terus memberikan perawatan, tetapi kondisi saat ini membuat pekerjaan menjadi lebih sulit dan rumit.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 − 5 =