Kitab Karya Waketum PBNU “Ithafu Ummati” Strategis Jawab Fikih Kontemporer
Bedah Kitab “Ithafu Ummati al-Muqtafa” di Jombang, Jatim, [IG Zulfa Mustofa]
Jakarta (Mediaislam.id) – Rais Syuriyah PBNU KH Abdul Ghofur Maimun menjelaskan kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa karya Wakil Ketua Umum PBNU Zulfa Mustofa dapat dikembangkan menjadi rujukan bagi Bahtsul Masail saat pelaksanaan Muktamar NU.
“Isu-isu dalam buku itu perlu mendapatkan tempat yang semestinya,” kata Gus Ghofur, sapaan KH Abdul Ghofur Maimoen, dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (11/07/2026).
Pernyataan Gus Ghofur tersebut disampaikan saat peluncuran dan bedah kitab di Aula Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta. Peluncuran ini mendapat apresiasi dari sejumlah tokoh NU yang menilai kitab tersebut memberikan kontribusi penting bagi pengembangan fikih kontemporer.
Baca juga: Waketum PBNU Ajak Ulama Hidupkan Kembali Tradisi Menulis Kitab
Gus Ghofur mencontohkan pelaksanaan Muktamar NU yang kerap kali kurang memperhatikan pembahasan isu-isu Bahtsul Masail. Forum tersebut sering kali lebih tersita oleh dinamika pemilihan Ketua Umum PBNU maupun Rais Aam PBNU.
“Buku-buku yang seperti ini perlu kita sampaikan pada saat Muktamar maupun Munas NU,” kata dia.
Kitab Ithafu Ummati Al-Muqtafa menghimpun empat karya berbahasa Arab yang membahas metodologi Bahtsul Masail, ushul fikih, fatwa kontemporer, serta sejarah intelektual Syekh Nawawi al-Bantani.
Salah satu pembahasan utamanya mengulas metodologi pengambilan keputusan hukum di lingkungan NU. Metode ini menekankan pentingnya memahami tujuan syariat (maqashid syariah), kondisi sosial, adat istiadat, hingga perkembangan zaman sebelum sebuah fatwa ditetapkan.
Senada dengan Gus Ghofur, Mustasyar PBNU KH Said Aqil Siroj memandang kitab tersebut sebagai ikhtiar penting untuk menghidupkan kembali semangat keilmuan pesantren yang mendalam, bersanad, dan membumi. Langkah ini krusial di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap kali dangkal.
“Di tengah derasnya informasi teknologi yang serba digital dan dangkal, maka membuat satu rujukan yang berakar kokoh dalam satu bidang keilmuan seperti kitab ini merupakan kebutuhan mendasar bagi perkembangan ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Ia menilai karya Kiai Zulfa juga mengingatkan NU agar tidak hanya berkutat pada urusan administratif organisasi. NU harus tetap bertumpu pada khazanah keilmuan yang menjadi ruh perjuangannya.
Wakil Ketua Umum PBNU sekaligus penulis kitab, Zulfa Mustofa, mengajak para ulama, kiai, akademisi, dan kalangan pesantren untuk menghidupkan kembali tradisi menulis kitab. Langkah ini menjadi bagian dari ikhtiar menjaga kesinambungan ilmu dan membangun peradaban Islam.
