Akademi Dakwah Indonesia Kota Bogor Gelar Wisuda Tahun Kedua
“Ini menunjukkan bahwa kita dengan kemampuan kita dan usaha kita, kalau memang Allah mengizinkan dan meridai, insyaallah pada waktunya akan muncul tanah yang bisa kita bangun untuk pendidikan kader dai di Kota Bogor ini,” katanya.
Bagi DDII Kota Bogor, tanah wakaf tersebut bukan sekadar aset. Ia diharapkan menjadi rumah bagi proses panjang melahirkan kader-kader dakwah yang memiliki kapasitas keilmuan dan kesiapan mengabdi kepada masyarakat.
Pesan lebih luas disampaikan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat, KH Muhyiddin Junaidi. Ia mengingatkan para wisudawan bahwa tantangan dakwah ke depan semakin kompleks sehingga seorang dai tidak cukup hanya menguasai ilmu agama. “Kuncinya dalam berdakwah adalah kompetensi,” jelasnya.
Kompetensi, menurut Kiai Muhyiddin, merupakan gabungan penguasaan berbagai ilmu pengetahuan. Karena itu, lulusan ADI dituntut menguasai ilmu lain di luar ilmu agama agar mampu hidup mandiri sekaligus memberikan kontribusi lebih besar bagi masyarakat.
Ia bahkan mendorong agar para alumni tidak berhenti pada orientasi mencari pekerjaan. Para dai, menurutnya, harus mampu menciptakan lapangan pekerjaan.
“Harus ada keunggulan komparatif dari alumni ADI. Apa yang bisa mereka lakukan? Bukan hanya mencari pekerjaan, tapi ke depan para pendakwah itu harus mampu menciptakan lapangan pekerjaan,” ujarnya.
Lebih jauh, Kiai Muhyiddin mengajak para lulusan ADI memiliki visi dakwah yang mendunia. Menurutnya, kebutuhan terhadap pendakwah tidak hanya berada di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara.
“Dakwah harus global,” katanya. Ia bahkan mencontohkan Australia sebagai salah satu negara yang membutuhkan pendakwah.
Pembina DDII Pusat, MS Kaban, mengingatkan para wisudawan bahwa menjadi dai berarti mengemban misi besar yang diwariskan para nabi, yakni mengajak manusia kepada kebaikan dan jalan Allah.
Mantan Menteri Kehutanan itu mengenang pengalamannya ketika masih menjadi aktivis kampus dan mendapatkan motivasi dari tokoh pendiri Dewan Dakwah, Mohammad Natsir. Salah satu bentuk perhatian Pak Natsir kepada para aktivis kala itu adalah memberikan buku sebagai bekal untuk belajar dan memahami Islam.
Karena itu, ia mengaku terharu melihat para orang tua yang telah mengantarkan anak-anak mereka menjadi calon dai. “Bapak-bapak, Ibu-ibu telah mempersiapkan pelanjut-pelanjut risalah para nabi, para dai-dai,” tuturnya.
MS Kaban juga mengingatkan bahwa perjalanan dakwah tidak selalu mudah. Para dai bisa saja menghadapi orang-orang dengan karakter seperti Namrud maupun Firaun. Namun, seorang dai tidak boleh gentar karena tempat bersandarnya adalah Allah SWT.
“Tidak ada power yang perlu dikhawatirkan dalam membawa kalimat Allah Subhanahu wa ta’ala,” tegasnya.
Sementara itu, Pembina DDII Kota Bogor, KH Muhammad Abbas Aula, mengingatkan para wisudawan mengenai janji Allah kepada orang-orang yang menolong agama-Nya.
Ia mengutip kandungan QS. Muhammad ayat 7 dan QS. Al-Hajj ayat 40 tentang pertolongan Allah bagi mereka yang menolong agama-Nya.
Menurutnya, ada tiga hal utama yang harus menjadi perhatian: menegakkan salat, menunaikan zakat, serta melakukan amar makruf nahi mungkar.
Ketiga hal tersebut, katanya, menjadi bagian penting dari ikhtiar untuk menghadirkan pertolongan Allah SWT dalam perjuangan dakwah.
Pesan tersebut menjadi penutup yang kuat bagi para wisudawan: gelar yang mereka sandang bukanlah garis akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang sebagai kader dakwah. []
