Dewan Pers Sebut Lima Jurnalis Hilang di Anak Krakatau sebagai Pahlawan Pers
Rombongan jurnalis yang hendak melakukan peliputan Gunung Anak Krakatau. (Dok. Istimewa)
Jakarta (Mediaislam.id)–Dewan Pers menyebut lima jurnalis yang hilang saat menjalankan tugas peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau sebagai pahlawan pers. Peristiwa tersebut sekaligus menjadi pengingat pentingnya keselamatan dan koordinasi ketika melakukan peliputan di wilayah berbahaya.
Ketua Dewan Pers Komarudin Hidayat mengatakan, kelima jurnalis tersebut berupaya menyajikan foto terbaik kepada masyarakat. Menurut dia, perjuangan jurnalis dalam mendapatkan karya jurnalistik terkadang tidak terlihat oleh publik.
“Biasanya kita itu menikmati potret gambar, tapi kadang melupakan bagaimana perjuangan mereka untuk mendapatkannya. Nah, ketika ini terjadi musibah, kita baru tersadar betapa mahalnya, beratnya untuk mencari, mendapatkan gambar terbaik,” kata Komarudin usai doa bersama untuk jurnalis yang hilang, dikutip Mediaislam.id dari laman Antara.
Komarudin mengatakan, peristiwa hilangnya lima jurnalis tersebut menjadi pelajaran bagi perusahaan media maupun jurnalis agar memperhatikan aspek keselamatan ketika melakukan peliputan di daerah berbahaya.
Dia meminta media yang hendak menugaskan jurnalis di wilayah berisiko untuk berkoordinasi dengan petugas setempat.
“Dan kedua, juga pihak pimpinan hendaknya melepas memperhatikan betul. Sebab kalau ada musibah seperti ini tentunya kawan-kawan perusahaan, pimpinannya, hendaknya memberikan perhatian spesial pada keluarga yang ditinggal,” katanya.
Komarudin juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terus berupaya mencari kelima jurnalis tersebut. Dewan Pers, kata dia, memberikan perhatian kepada keluarga yang ditinggalkan.
“Dewan Pers memberikan perhatian, belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan. Kami mengadakan acara doa bersama, sambutan, refleksi dari kawan-kawan. Tentu doa kami semoga mereka kembali,” katanya.
Sementara itu, Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Dwi Pambudo mengatakan, pihaknya merasakan duka mendalam atas hilangnya lima jurnalis dan tiga awak kapal dalam peristiwa tersebut.
“Jadi saat ini pewarta foto Indonesia masih kuat, masih bersatu dengan masyarakat melakukan pencarian mandiri,” katanya.
Dwi mengatakan, dedikasi para pewarta yang hilang saat menjalankan tugas peliputan merupakan bentuk perjuangan untuk bangsa sesuai dengan Undang-Undang. Karya para pewarta tersebut, menurut dia, menjadi ujung tombak dalam mengungkap fakta dan peristiwa terkini.
Dia berharap peristiwa serupa tidak kembali terjadi di kemudian hari.
“Harapannya teman-teman bisa kembali bersama keluarga dan karya-karya teman-teman bisa abadi,” katanya.
Sebelumnya, lima jurnalis dan tiga awak kapal KM Arupadatu I dilaporkan hilang kontak saat menjalankan tugas peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda. Operasi SAR gabungan berlangsung selama 10 hari dan secara resmi dihentikan pada 17 September 2026, setelah tim tidak menemukan tanda-tanda keberadaan korban.*
