Pemadaman Listrik Lumpuhkan Rumah Sakit Gaza
RS Al Shifa di Gaza kembali beroperasi.
Gaza (Mediaislam.id)-Gaza saat ini tengah menderita krisis energi yang parah. Kondisi tersebut memukul telak rumah sakit-rumah sakit yang sedang berjuang keras merawat pasien di tengah pengeboman Israel.
Omar Abu Atwa, seorang sopir berusia 30 tahun, sedang berjalan pulang dari tempat kerja di Gaza Tengah bulan lalu. Tiba-tiba, sebuah ledakan hebat mengguncang jalanan di sekitarnya.
Dalam kondisi berdarah dan kebingungan, ia segera dilarikan ke Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir el-Balah. Di sana, tim dokter langsung memeriksa luka-luka pada bagian tangannya.
Namun, saat ia sedang menunggu tindakan rontgen, lampu rumah sakit tiba-tiba padam total. Kejadian ini membuat sebagian besar peralatan medis rumah sakit tidak dapat dioperasikan, termasuk mesin yang dibutuhkan dokter untuk memeriksa lukanya.
Setelah menunggu selama enam jam di ruang perawatan, Omar akhirnya pergi dengan rasa lelah dan frustrasi. Ia pulang tanpa hasil rontgen maupun perawatan yang layak untuk tangannya yang terluka.
Pengalaman pahit ini terus berulang bagi para pasien di Gaza. Hal itu termasuk bagi mereka yang dilarikan ke rumah sakit untuk menerima operasi darurat demi menyelamatkan nyawa.
“Saya menunggu berjam-jam di dalam rumah sakit dengan harapan listrik kembali menyala dan perangkat medis dapat berfungsi lagi. Selama waktu itu, saya merasakan sakit dan cemas karena tidak tahu jenis luka saya atau apakah kondisi saya memerlukan tindakan medis darurat,” ujarnya kepada Al Jazeera.
“Saya melihat anak-anak, lansia, dan orang-orang terluka lainnya menunggu sama seperti saya. Beberapa membutuhkan tes medis, sementara yang lain terus bertanya kapan listrik akan menyala agar mereka dapat melanjutkan perawatan. Krisis ini berdampak pada semua orang.”
Genosida yang dilakukan Israel telah menyebabkan kerusakan yang sangat besar pada sektor kesehatan di Gaza. Pengeboman Israel sejak 7 Oktober 2023 telah menghancurkan 38 rumah sakit dan 96 pusat kesehatan primer, atau membuat mereka tidak dapat beroperasi lagi.
Serangan udara tersebut juga hampir melumpuhkan total jaringan listrik nasional Gaza dengan hancurnya sekitar 90 persen jalur kabel. Akibatnya, rumah sakit terpaksa bergantung sepenuhnya pada generator untuk mendapatkan pasokan daya.
Namun, blokade yang terus berlangsung di Gaza telah menyebabkan kelangkaan bahan bakar yang parah untuk menggerakkan generator tersebut. Padahal, generator itu berfungsi menyalakan peralatan medis vital penyelamat nyawa, seperti ventilator, inkubator, dan alat pemantau.
