200 Lebih Pembuat Film Israel Dukung Pencipta Film Dokumenter Genosida Gaza ‘NAZA’
Sutradara film NAZA, Yuval Abraham dan Rachel Szor.
Jakarta (Mediaislam.id) — Lebih dari 200 pembuat film Israel menandatangani petisi yang mendukung pencipta film dokumenter NAZA, sebuah karya yang menampilkan kesaksian dari personel militer dan intelijen Israel mengenai operasi tentara di Gaza, demikian dilaporkan media Israel pada Senin (14/9/2026).
Para penandatangan petisi mencakup sutradara terkemuka seperti Ari Folman, Shlomi Elkabetz, Ran Tal, dan Michal Aviad.
“Peran utama seni dan jurnalisme adalah menjadi cermin bagi masyarakat tempat mereka berada,” bunyi isi petisi tersebut.
Inisiatif ini muncul di tengah meningkatnya kritik dan ancaman yang ditujukan kepada pembuat film tersebut, Yuval Abraham dan Rachel Szor, setelah dokumenter itu meraih Special Jury Prize pada 83rd Venice International Film Festival.
Menteri Kebudayaan dan Olahraga Israel, Miki Zohar, melabeli karya para pembuat film tersebut sebagai tindakan “pengkhianatan” dan menyatakan akan berusaha mencabut kewarganegaraan Israel mereka.
Menteri Kebudayaan sebenarnya tidak memiliki kewenangan untuk mencabut kewarganegaraan secara sepihak. Langkah tersebut memerlukan proses hukum formal yang melibatkan Menteri Dalam Negeri dan pengadilan sesuai aturan hukum Israel.
NAZA, yang diproduksi oleh surat kabar Inggris The Guardian dan JW Films, didasarkan pada wawancara dengan 24 sumber internal militer dan intelijen Israel secara anonim mengenai pengawasan, penentuan target, dan serangan di Gaza.
Judul film ini diambil dari singkatan militer Ibrani untuk “kerusakan sampingan” (collateral damage), yang mengacu pada perkiraan jumlah warga sipil yang diperkirakan akan tewas dalam suatu serangan.
Para narasumber menjelaskan penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan pengawasan massal untuk mengidentifikasi target, serta serangan yang tetap disetujui meskipun memperhitungkan jatuhnya korban dari kalangan sipil.
Abraham dan Szor menegaskan bahwa dokumenter ini berfokus pada kebijakan kelembagaan, perintah, dan praktik operasional, alih-alih pelanggaran terisolasi oleh individu prajurit.
Pihak tentara Israel menolak tuduhan film tersebut dan mempertanyakan keandalan kesaksian dari sumber-sumber anonim yang identitas, pangkat, dan area tanggung jawabnya tidak dapat diverifikasi.
Pihaknya juga membantah bahwa kecerdasan buatan menentukan target mana yang diserang, dengan menyatakan bahwa keputusan pemilihan dan otorisasi serangan dibuat oleh personel manusia sesuai dengan arahan militer.
Abraham dan Szor sebelumnya menggarap film dokumenter pemenang Academy Award, No Other Land, bersama pembuat film Palestina Basel Adra dan Hamdan Ballal.[Anadolu Agency]
