Umar bin Abdul Aziz: 2,5 Tahun Memimpin, Rakyat Sejahtera
Tulisan di depan makam Umar bin Aziz, tertulis yang terjemahnya “Makam Khalifah Umayyah yang Adil”
SAAT INI dunia tengah bergelut dengan ketimpangan ekonomi yang kian lebar. Di tengah hiruk-pikuk teori kapitalisme dan sosialisme, sejarah Islam menyimpan satu potret kepemimpinan yang nyaris mustahil jika tidak benar-benar tercatat dalam tinta emas sejarah: sebuah masa di mana kemiskinan berhasil dihapuskan hanya dalam waktu kurang dari 2,5 tahun saja.
Sosok itu adalah Umar bin Abdul Aziz, Khalifah kedelapan Daulah Umayyah yang sering dijuluki sebagai Khalifah Rasyidin kelima.
Darah Umar bin Khattab
Umar bin Abdul Aziz lahir di Madinah pada 63 H (beberapa riwayat menyebut 61 H). Ayahnya adalah Abdul Aziz bin Marwan, seorang gubernur Mesir yang kuat, dan ibunya adalah Ummu Ashim binti Ashim bin Umar bin al-Khattab. Dari garis ibu inilah, sifat-sifat ketegasan dan keshalehan kakek buyutnya, Umar bin Khattab, mengalir deras dalam dirinya.
Dalam buku “Bangkit dan Runtuhnya Daulah Umayyah” karya Dr. Muhammad As-Shalabi, disebutkan bahwa masa muda Umar bin Abdul Aziz diwarnai dengan kemewahan. Ia dikenal sebagai pemuda yang paling necis di Madinah, menggunakan minyak wangi yang aromanya tertinggal di jalan yang ia lalui, dan mengenakan pakaian sutra yang harganya sangat mahal. Namun, semua itu berubah total ketika amanah kekhalifahan diletakkan di pundaknya.
Pemerintahan Singkat tapi Berbekas
Umar bin Abdul Aziz naik takhta pada tahun 99 Hijriah, menggantikan sepupunya, Sulaiman bin Abdul Malik. Ia memimpin hanya sekitar 2 tahun 5 bulan (beberapa riwayat menyebut 30 bulan), hingga wafatnya pada tahun 101 Hijriah di usia yang sangat muda, yakni 39 tahun.
Imam As-Suyuthi dalam “Tarikh Khulafa” mencatat momentum pelantikannya. Saat itu, Umar berkata dengan gemetar di atas mimbar, “Wahai manusia, sesungguhnya aku telah dibebani urusan ini tanpa diminta pendapatku dan tanpa musyawarah dari kaum muslimin. Maka, lepaskanlah baiat yang ada di leher kalian untukku, dan pilihlah untuk kalian sendiri siapa yang kalian kehendaki.” Namun, rakyat serentak menjawab, “Kami telah memilihmu!”
Integritas Tanpa Batas
Keberhasilan ekonomi Umar bin Abdul Aziz tidak dimulai dari angka-angka statistik, melainkan dari meja makan dan ruang tamu pribadinya. Ia memahami bahwa reformasi ekonomi harus dimulai dengan pemberantasan korupsi di lingkaran terdalam kekuasaan.
Salah satu kisah paling masyhur yang dicatat oleh Ibnu Katsir dalam “Al-Bidayah wa An-Nihayah” adalah tentang kehati-hatian Umar terhadap fasilitas negara.
Suatu malam, Umar sedang bekerja di bawah cahaya lampu yang minyaknya dibiayai dari Baitul Mal (kas negara). Datanglah seseorang yang ingin membicarakan urusan pribadi. Seketika, Umar mematikan lampu tersebut. Saat ditanya mengapa, ia menjawab, “Lampu ini menggunakan minyak dari uang rakyat untuk urusan rakyat. Jika kita bicara urusan pribadi, kita tidak boleh menggunakan fasilitas mereka.”
Umar juga meminta istrinya, Fatimah binti Abdul Malik—yang merupakan putri seorang Khalifah dan saudara dari empat Khalifah—untuk menyerahkan seluruh perhiasannya ke Baitul Mal. Umar memberikan pilihan: mempertahankan kemewahan atau tetap mendampinginya sebagai istri Khalifah yang hidup sederhana. Fatimah, dengan kesalehannya, memilih menyerahkan seluruh emas dan permata miliknya demi mendukung perjuangan suaminya.
