Semangat Sumpah Pemuda, SMPIT Birrul Waalidain Bogor Siapkan Generasi Indonesia Emas

 Semangat Sumpah Pemuda, SMPIT Birrul Waalidain Bogor Siapkan Generasi Indonesia Emas

Bogor (Mediaislam.id) – Semangat Sumpah Pemuda menjadi momentum istimewa bagi SMPIT Birrul Waalidain Bogor untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan generasi muda. Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, Rabu (28/10/2026), sekolah tersebut melantik pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) periode 2026–2027 di Aula Gedung Birrul Waalidain Bogor.

Pelantikan ini bukan sekadar pergantian kepengurusan organisasi siswa. Lebih dari itu, kegiatan bertajuk “Mempersiapkan Generasi Emas 2045” tersebut menjadi langkah awal bagi para siswa untuk belajar memimpin, membangun tanggung jawab, serta menyiapkan diri menghadapi tantangan zaman dengan bekal ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman.

Calvin Adrian Putra, siswa kelas VIII yang dipercaya menjadi Ketua OSIS periode 2026–2027, menyambut amanah tersebut dengan harapan besar. Ia ingin tumbuh menjadi pemimpin yang bijaksana sekaligus membanggakan kedua orang tuanya.

“Harapan saya, bisa menjadi pemimpin yang bijaksana dan membanggakan orang tua,” ungkap Calvin kepada Suara Islam di tengah-tengah acara pelantikan.

Kepercayaan yang diberikan kepadanya juga disambut dengan dukungan dari teman-teman sekolah. Dukungan tersebut menjadi penyemangat bagi Calvin untuk menjalankan tugas dan menghadirkan kegiatan yang bermanfaat bagi seluruh siswa.

Baginya, menjadi ketua OSIS bukan hanya tentang memegang jabatan, melainkan juga tentang bagaimana mengajak teman-temannya berkembang bersama. Ia ingin menjadikan organisasi siswa sebagai tempat untuk mencoba hal-hal baru, mengasah kemampuan, dan membangun kebiasaan positif.

Sejumlah program telah disiapkan Calvin untuk menghidupkan kegiatan OSIS selama satu periode ke depan. Salah satunya adalah menyelenggarakan berbagai perlombaan pada momen-momen hari besar, seperti lomba kaligrafi, pidato, futsal, dan kegiatan lain yang dapat menggali potensi siswa.

Ia juga menaruh perhatian pada penguatan nilai-nilai keagamaan. Menurutnya, generasi muda saat ini perlu memiliki landasan moral yang kuat agar tidak mudah terbawa pengaruh negatif lingkungan maupun perkembangan zaman.

Karena itu, program keagamaan akan menjadi salah satu perhatian dalam kepengurusannya. Selain itu, Calvin ingin mendorong kegiatan _public speaking_ untuk membantu teman-temannya lebih percaya diri dalam menyampaikan gagasan dan berbicara di hadapan banyak orang.

Ia meyakini, kemampuan berbicara dan keberanian mengungkapkan pendapat merupakan bekal penting bagi anak muda untuk berkembang, baik di lingkungan sekolah maupun ketika kelak terjun ke masyarakat.

Pesan yang ingin ia sampaikan kepada teman-teman sebayanya pun sederhana, tetapi bermakna: masa muda harus dimanfaatkan sebaik mungkin. “Jangan membuang waktu di masa muda, karena waktu tidak bisa terulang,” tuturnya.

Harapan serupa disampaikan Pembina OSIS SMPIT Birrul Waalidain Bogor, Sri Agustini. Menurutnya, organisasi siswa memiliki peran penting dalam memberikan pengalaman belajar yang tidak selalu diperoleh melalui pembelajaran akademik di kelas.

Melalui OSIS, para siswa diharapkan dapat mengembangkan kemampuan kepemimpinan, mulai dari memimpin diri sendiri, mengelola tenaga dan potensi yang dimiliki, hingga mengoordinasikan sebuah organisasi.

“Harapannya, dengan pelantikan OSIS ini, anak-anak bisa meningkatkan kemampuan kepemimpinan dan mendapatkan ilmu baru di luar akademik. Mereka belajar bagaimana memimpin dirinya sendiri maupun memimpin organisasi,” jelas Sri.

Ia menekankan bahwa pemimpin yang baik tidak hanya ditentukan oleh keberanian mengambil keputusan atau kemampuan mengarahkan orang lain. Seorang pemimpin juga perlu memiliki keimanan, ketakwaan, wawasan yang memadai, serta kemampuan menghadapi kesulitan dan mencari solusi.

Dengan bekal tersebut, para siswa diharapkan tumbuh menjadi generasi yang tidak mudah menyerah ketika menghadapi persoalan. Mereka juga perlu belajar menyampaikan gagasan secara tepat dan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kebaikan bersama.

Untuk mendukung tujuan itu, SMPIT Birrul Waalidain Bogor mengintegrasikan pembentukan karakter ke dalam kegiatan pendidikan sehari-hari. Pembelajaran dimulai dengan kegiatan keagamaan, seperti salat duha, hafalan Al-Qur’an, dan penerjemahan Al-Qur’an hingga pukul 09.00 WIB, sebelum dilanjutkan dengan kegiatan belajar mengajar seperti biasa.

Pola tersebut menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab organisasi siswa, tetapi juga merupakan bagian dari budaya pendidikan yang dibangun di sekolah.

Bagi Sri, nilai-nilai keislaman menjadi fondasi penting agar kemampuan kepemimpinan yang dimiliki siswa tidak berhenti pada keterampilan mengelola organisasi, tetapi juga tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Selain kepemimpinan dan penguatan karakter keagamaan, sekolah juga menaruh perhatian pada tiga bidang pengembangan siswa, yakni _public speaking_, kemandirian, dan teknologi.

Ketiga bidang tersebut dipandang relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini. Kemampuan berbicara diperlukan agar siswa mampu menyampaikan pendapat dengan percaya diri. Kemandirian membantu mereka bertanggung jawab terhadap pilihan dan tugasnya, sedangkan penguasaan teknologi menjadi bekal untuk menghadapi perubahan yang terus berlangsung.

Dengan memadukan ketiganya, sekolah berharap siswa tidak hanya menjadi pribadi yang mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga mampu menggunakannya secara bijak dan bertanggung jawab.

Sri menjelaskan, pengembangan kemampuan tersebut tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman. Kemajuan teknologi dan keterampilan modern tidak boleh membuat siswa kehilangan arah, melainkan harus berjalan beriringan dengan penguatan iman, akhlak, dan pemahaman agama.

Salah satu upaya yang diterapkan dalam pembelajaran keagamaan adalah metode TAMYIZ, yakni pendekatan pembelajaran untuk membantu siswa memahami dan menerjemahkan Al-Qur’an dengan cara yang lebih menyenangkan.

Menurut Sri, pembelajaran tersebut telah diperkenalkan sejak jenjang taman kanak-kanak dan dilanjutkan secara bertahap di sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama. Prosesnya diarahkan agar siswa semakin terbiasa memahami makna ayat-ayat Al-Qur’an, tidak sekadar membacanya.

Di tingkat SMP, sekolah berharap siswa dapat menuntaskan pemahaman terjemahan Al-Qur’an sesuai tahapan pembelajaran yang diterapkan. Dengan demikian, pengetahuan agama yang diperoleh tidak hanya menjadi hafalan, tetapi juga dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan ini sejalan dengan tujuan pendidikan yang ingin membentuk siswa berilmu sekaligus berkarakter. Pemahaman agama diharapkan menjadi pedoman ketika mereka berinteraksi dengan teman, mengambil keputusan, menghadapi perbedaan, dan menjalankan tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat.

Momen pelatikan OSIS tahun ini terasa lebih spesial karena dihadiri Mantan Menteri Kehutanan MS Kaban yang memberikan kuliah umum untuk para pelajar dan guru Birrul Waalidain. []

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

six + 19 =