Segitiga Turki, Pakistan, Saudi, Kekuatan Dunia Islam Baru

 Segitiga Turki, Pakistan, Saudi, Kekuatan Dunia Islam Baru

Oleh:

Dr. Maimon Herawati, M.Litt. | Dosen Unpad dan Aktivis Kemanusiaan

 

PENANDATANGANAN perjanjian keamanan tiga negara, Pakistan, Arab Saudi, dan Turki pada 7 Agustus mengguncang tatanan politik dan keamanan dunia saat ini. Kalkulasi politik dan keamanan Timur Tengah dan Asia Selatan berubah.

Yang perlu dicermati adalah klausul serangan pada satu dari tiga negara ini artinya serangan pada semua, mirip kesepakatan antara anggota NATO.

Pakta Pertahanan Mekkah (Joint Mecca Defence Agreement) ini menjadi landasan pembentukan mekanisme politik strategis dan militer melibatkan Menhan, Menlu, dan Panglima Angkatan Bersenjata, serta koordinasi antar tiga negara pada level tertinggi.

Mari membacanya.

Turki, Pakistan, dan Aran Saudi membawa tiga kekuatan yang berbeda. Tiga negara ini adalah tiga negara Sunni paling penting.

Pakistan adalah negara dengan jumlah Muslim terbanyak kedua di dunia dan memiliki persenjataan nuklir satu-satunya di antara negara Muslim. Negara ini memiliki 170 hulu ledak nuklir. Pakistan memiliki kekuatan militer yang kuat dengan pengalaman yang kaya. Ini hasil dari persaingan India dan Pakistan sejak dulu.

Turki memiliki angkatan bersenjata paling tangguh di kawasannya. Pengembangan industri pertahanan mereka semakin canggih. Teknologi drone Turki adalah game changer dalam pertempuran moderen.

Bagi Turki, kerja sama dengan Saudi dan Pakisyan membuka pasar baru bagi industri pertahanannya. Ini akan membantu meredakan laju inflasi dalam negeri Turki.

Arab Saudi jelas merupakan bendahara dengan cadangan uang tidak berseri yang bisa menyuntikkan dana bagi dua mitra barunya dalam kerja sama industri militer. Jika modal Saudi bertemu dengan teknologi Turki dan pengalaman militer Pakistan, maka ekosistem industri pertahanan baru akan berkembang. Ketiga negara ini akan mengurangi ketergantungan pada pemasok Barat dalam jangka panjang.

Di mana Iran?

Lokasi tiga negara ini berada di sekitar Iran. Dan perjanjian ini disepakati setelah Amerika Israel menyerang Iran dan Iran membalas serangan ini dengan menghancurkan pangkalan milter Amerika di beberapa negara Teluk, termasuk Arab Saudi.

Iran mengirimkan drone ke lokasi dekat kompleks Kedubes Amerika di Riyadh dan rudal balistik ke pangkalan militer Amerika di Arab Saudi. Klausul serangan pada satu negara dianggap serangan pada ketiga negara menunjukkan bahwa kehadiran militer Amerika tidak lagi dianggap cukup untuk melindungi.

Menariknya, Menlu Turki, Fidan menegaskan bahwa perjanjian ini tidak ditujukan pada Iran atau negara manapun. Fidan juga menyebut Iran sebagai tetangga dan sahabat Turki.

Dengan demikian, tiap negara sepertinya memiliki target berbeda untuk kerja sama ini.

Arab Saudi nampaknya merasa terancam karena Amerika ternyata gagal melindungi Arab dari serangan Iran. Dengan demikian Arab Saudi mencari sekutu keamanan baru yang akan menambah kokoh posisi mereka.

Pakistan menggunakan perjanjian ini untuk menambah daya tekan diplomasi mereka, utamanya terkait India. Pakistan sendiri tidak berniat memerangi Iran karena Iran yang aman lebih menguntungkan Pakistan.

Bagaimana pemerintah Indonesia melihat ini?

Secara geografis, posisi Indonesia memang jauh, sekitar 9000 km dari Teluk. Akan tetapi, secara politik dan identitas, Indonesia adalah negara Muslim terbesar di dunia. Indonesia juga memiliki sejarah politik luar negeri yang dibangun atas prinsip anti-kolonialisme dan solidaritas pada bangsa yang sedang memperjuangkan kemerdekaan.

Oleh karena itu, Indonesia jangan hanya menjadi penonton. Indonesia perlu ikut dalam Pakta Pertahanan Mekkah ini. Ada banyak keuntungan startegis yang dapat diperoleh Indonesia.

Pertama, keberadaan Arab Saudi daam perjanjian ini membuka kerja sama ekonomi yang lebih luas. Saudi memiliki kekuatan finansial dan investasi yang sangat besar. Jika kekuatan finansial Saudi bertemu dengan kebutuhan pembangunan Indonesia, ruang kerja samanya tidak hanya dalam perdagangan, tapi juga investasi energi dan industri strategis.

Kedua, Turki dan Pakistan memiliki kapasitas militer dan industri pertahanan yang lebih maju daripada Indonesia. Kerja sama dengan dua negara ini akan membantu pertahanan sekaligus membuka jalan pengembangan industri pertahanan nasional.

Saat ini alutsista Indonesia bergantung pada pasokan Barat seperti Amerika, Italia, dan Perancis. Indonesia perlu mengurangi ketergantungan ini. Kesertaan dalam kerja sama ini akan membantu Indonesia untuk membeli alutsista dari non-Barat sebagai cara untuk memastikan tidak ada hegemoni Barat dalam pertahanan Indonesia.

Kerja sama dengan Turki dan Pakistan mungkin didorong menjadi transfer teknologi alutsista, pelatihan bersama, pembangunan rantai industri pertahanan. Kerja sama tidak sekedar mengubah pemasok senjata dari Barat ke Turki dan Pakistan. Tapi lebih dalam lagi.

Jika NATO mampu mengikat negara Barat dalam satu kepentingan bersama, mengapa perjanjian tiga negara Muslim yang penting ini tidak dilihat sebagai janin dari NATO Muslim?

Ada musuh besar bersama saat ini, yaitu Amerika dan Israel. Jika negara Muslim, syiah dan Sunni sama-sama melihat ambisi Israel menguasai Timur Tengah hingga terbangun Israel Raya, NATO Muslim ini adalah jawaban tepat menghadapinya.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 + ten =