KH Fahmi Salim Luncurkan Buku Haji, Ingatkan Jemaah Bawa Perubahan untuk Umat

 KH Fahmi Salim Luncurkan Buku Haji, Ingatkan Jemaah Bawa Perubahan untuk Umat

JAKARTA (Mediaislam.id)– Direktur Al Fahmi Institute, KH Fahmi Salim, meluncurkan buku berjudul Haji: Dari Pemurnian Misi Kenabian ke Revolusi Kebangkitan. Buku tersebut mengajak jemaah dan calon jemaah memahami ibadah haji tidak sebatas persoalan fikih dan ritual, tetapi juga sebagai proses spiritual dan jalan menuju kebangkitan umat.

Buku tersebut diluncurkan di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Senin (28/9/2026). Kiai Fahmi menilai besarnya jumlah masyarakat Indonesia yang menunaikan ibadah haji setiap tahun semestinya dapat melahirkan perubahan setelah mereka kembali ke Tanah Air.

“Haji ini kan jemaah di Indonesia tuh banyak sekali ya, ratusan ribu. Tiap tahun ada alumni haji dari Indonesia ratusan ribu. Kalau sudah puluhan tahun bangsa Indonesia memperjalankan jemaah haji yang sekian banyak, berapa juta yang manusia-manusia baru yang dilahirkan dari madrasah yang bernama haji ini,” kata Kiai Fahmi, Senin (28/9/2026).

Menurut Kiai Fahmi, ibadah haji tidak semestinya berakhir setelah jemaah menyelesaikan rangkaian ritual di Tanah Suci. Nilai-nilai yang diperoleh selama berhaji harus tercermin dalam kehidupan setelah kembali ke Indonesia.

“Jangan sampai kita keluar dari ibadah haji itu tidak membawa perbaikan, tidak membawa oleh-oleh bagi perbaikan nasib bangsa, umat, dan negara ini,” ujarnya.

Kiai Fahmi mengatakan bukunya dihadirkan untuk memperluas pemahaman calon jemaah dan jemaah terhadap ibadah haji. Pemahaman tersebut diperlukan sejak sebelum keberangkatan, selama menjalankan ibadah di Tanah Suci, hingga setelah pulang ke Tanah Air.

“Buku Haji ini hadir untuk memberikan wawasan ya, mendorong para jemaah haji dan calon-calon haji untuk terus meningkatkan pemahamannya, wawasannya tentang ibadah haji, baik sebelum, ketika melaksanakan, dan pascakeberangkatan haji itu,” tutur Kiai Fahmi.

Buku tersebut terbagi menjadi tiga bagian, yakni Manasik untuk Ketakwaan, Manasik untuk Kebangkitan, dan Refleksi Perjalanan. Bagian Manasik untuk Kebangkitan, antara lain, mengulas ketahanan keluarga, kebangkitan umat, hingga kurikulum perbaikan bangsa.

 

Haji sebagai Madrasah Kehidupan

Kiai Fahmi mengatakan buku yang ditulisnya tidak hanya membahas satu dimensi ibadah haji. Dia mencoba memadukan sejumlah perspektif dalam melihat perjalanan haji.

“Bedanya buku saya itu bukan hanya membahas satu aspek saja, bukan hanya fikih saja, tapi ada tentang spiritual, tentang tasawuf, tentang politik, geopolitik, filsafat sosial, dan kebangkitan umat. Itu yang membedakan,” kata Kiai Fahmi.

Dalam buku tersebut, haji juga ditempatkan sebagai proses pendidikan tauhid sekaligus perjalanan manusia kembali kepada fitrah.

“Haji dalam buku ini kami paparkan sebagai madrasah tauhid dan perjalanan kembali menuju fitrah,” kata Kiai Fahmi.

Fahmi kemudian menjelaskan makna spiritual dari sejumlah rangkaian manasik. Ihram, misalnya, tidak hanya dipandang sebagai pakaian yang dikenakan selama menjalankan ibadah, tetapi juga mengandung nilai yang harus dipertahankan setelah haji selesai.

“Kain ihram boleh dilepas, kita boleh kembali memakai pakaian berwarna-warni, pakaian dinas, dan membawa identitas kita masing-masing. Namun, nilai utama ihram itulah yang harus berlaku sepanjang hayat,” kata Kiai Fahmi.

Dia juga mengaitkan tawaf dengan refleksi terhadap perjalanan kehidupan dan kematian.

“Perputaran ke kiri ini adalah pergerakan memutar ke masa lalu. Tujuannya adalah untuk mengingat kematian, mengingat yaumul hisab (hari perhitungan), dan merenungi dosa-dosa yang pernah kita lakukan di masa lalu,” kata Kiai Fahmi.

Karena itu, Fahmi menekankan pentingnya persiapan haji secara menyeluruh. Persiapan tidak hanya menyangkut kemampuan finansial dan fisik, tetapi juga pengetahuan dan kesiapan batin.

“Persiapan haji harus dilakukan secara holistik: Finansial, Fikih & Ilmu, Mental & Hati,” ujarnya.

Melalui buku tersebut, Kiai Fahmi berharap haji dapat dipahami sebagai proses pendidikan yang membentuk pribadi jemaah sekaligus mendorong perubahan di tengah masyarakat setelah mereka kembali dari Tanah Suci.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × five =