Saad bin Abi Waqqas, Pahlawan Perang Qadisiyah

 Saad bin Abi Waqqas, Pahlawan Perang Qadisiyah

Ilustrasi: Perang Qadisiyah [AI]

Jumlah pasukan muslim yang berada di bawah komandonya saat itu berjumlah dua puluh delapan ribu mujahid. Sementara itu, total kekuatan militer tentara Persia yang berada di bawah pimpinan Panglima Rustam mencapai seratus ribu prajurit.

Pasukan Persia mulai bergerak mendekat dengan datang dari arah timur. Namun, Saad sengaja membiarkan mereka menyeberangi sungai dan beliau sendiri tetap bertahan pada posisi pertahanan yang telah dipilih sebelumnya.

Saad juga melarang seluruh pasukannya untuk memulai pertempuran sampai mereka selesai mendirikan salat Zuhur. Hal tersebut bertujuan agar jiwa mereka menjadi semakin kuat dan tekad perjuangan mereka semakin membaja melalui ibadah tersebut.

Penyakit yang diderita sama sekali tidak menghalangi sang pahlawan ini untuk tetap menunaikan tugas-tugas komandonya secara optimal. Beliau meminta kepada para anak buahnya agar bersedia membawanya naik ke atas atap benteng tempatnya menginap.

Dari atas atap benteng itulah beliau memantau pergerakan medan laga sekaligus mendiktekan instruksi-instruksinya. Instruksi tersebut ditujukan kepada salah seorang prajurit yang bersiap di bawah benteng, yang kemudian bergegas menyampaikannya kepada pasukan yang bertugas.

Pasukan Persia melancarkan serangan pembuka dengan menempatkan barisan gajah di barisan paling depan. Keberadaan hewan-hewan besar ini berhasil menakut-nakuti kuda-kuda milik bangsa Arab, mencambuk para penunggangnya dengan belalai, serta mengilas siapa saja yang menghalangi jalan mereka.

Melihat situasi tersebut, Saad segera memerintahkan pasukan pemanah untuk melumpuhkan tentara Persia yang mengendalikan gajah dari atas punggungnya. Setelah tugas tersebut berhasil dituntaskan, mereka langsung melepaskan anak panah ke arah mata gajah-gajah itu hingga hewan tersebut lari kocar-kacir menyelamatkan diri.

Ketika malam mulai menyelimuti medan perang, pertempuran yang sengit tersebut akhirnya dihentikan untuk sementara waktu. Kemudian pada hari kedua, Al-Qa’qa’ bin Amru tiba dari wilayah Syam memimpin sepasukan detasemen yang terdiri atas seribu penunggang kuda.

Kedatangan pasukan bantuan ini berhasil mendatangkan tambahan kekuatan moral bagi pasukan komando Saad. Semangat juang kaum muslim semakin membubung tinggi saat menyaksikan Al-Qa’qa’ berhasil menerobos barisan musuh untuk berduel satu lawan satu dengan seorang panglima Persia hingga menewaskannya.

Kaum muslimin segera memanfaatkan momentum tersebut dengan melancarkan serangan balasan yang sangat masif hingga memporak-porandakan barisan pertahanan Persia. Baku hantam yang melibatkan kedua belah pihak ini terus berkecamuk tanpa henti hingga tengah malam.

Memasuki hari ketiga, pasukan Persia kembali melancarkan serangan ofensif dengan mengandalkan dua ekor gajah berukuran raksasa di garis depan. Di tengah situasi kritis itu, Ashim dan Al-Qa’qa’ berhasil membuka jalan menuju salah satu gajah tersebut lalu menusuk kedua matanya.

Pada waktu yang bersamaan, dua orang penunggang kuda muslim lainnya melakukan tindakan serupa pada gajah raksasa yang kedua. Akibat serangan mematikan itu, kedua gajah tersebut mundur ke arah sungai dan diikuti oleh kawanan gajah lainnya yang berada di belakang mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 − 8 =