Pentingnya Menjaga Akhlak di Era Digital

 Pentingnya Menjaga Akhlak di Era Digital

Ilustrasi: Penggunaan media sosial. [GettyImages]

Bogor (Mediaislam.id) – Dunia digital saat ini menuntut transformasi adab bagi setiap Muslim. Hal tersebut ditegaskan oleh pakar hadis, Dr. Buya Ibdalsyah, dalam kajian mendalam Kitab Mukhtarul Ahadits yang berlangsung di Masjid Ibn Khaldun, Kampus Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Senin (4/5/2026).

Dalam kajian yang disiarkan secara langsung oleh Kalam TV tersebut, Buya Ibdalsyah menyoroti bahwa banyak umat yang terjebak pada kesalehan ritual namun mengabaikan etika sosial. Ia menekankan bahwa inti dari ajaran Islam adalah memberikan rasa damai bagi lingkungan sekitar.

“Muslim yang sempurna bukan hanya yang jidatnya hitam karena sujud, tetapi yang lisan dan perilakunya memberikan rasa aman bagi saudaranya,” ujar Buya Ibdalsyah dengan lugas.

Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor itu menambahkan, “Jika keberadaan kita masih membuat orang lain merasa terancam atau sakit hati, maka ada yang perlu diperbaiki dari keislaman kita.”

Salah satu poin yang paling menarik perhatian jemaah adalah ketika beliau menarik relevansi hadis klasik ke dalam konteks modern. Menurutnya, gangguan “tangan” di masa kini tidak lagi sebatas kontak fisik, melainkan telah berpindah ke layar ponsel.

“Di zaman sekarang, tangan seorang Muslim bukan lagi hanya soal fisik, melainkan jari-jemari di atas layar ponsel. Jangan sampai salat kita rajin, tetapi jari kita menjadi sumber fitnah dan hoaks yang menyakiti perasaan orang lain,” tegasnya.

Selain masalah akhlak sosial, Buya juga mengingatkan pentingnya menjaga integritas diri dengan menjauhi perkara syubhat atau sesuatu yang belum jelas hukum halal-haramnya. Beliau menganalogikan perilaku ini seperti seseorang yang berjalan di tepi jurang.

“Janganlah kita hobi mendekati wilayah syubhat atau yang remang-remang hukumnya. Orang yang sering bermain di pinggir jurang, suatu saat pasti akan terperosok. Menjaga diri dari yang meragukan adalah cara terbaik menjaga kehormatan agama kita,” tambahnya lagi.

Sebagai penutup, Buya berpesan agar ilmu yang didapat dari pengajian tidak hanya menjadi koleksi hafalan, melainkan menjadi pemandu perubahan karakter.

“Mempelajari hadis bukan untuk gagah-gagahan dengan hafalan, melainkan untuk memperbaiki akhlak. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuat kita semakin rendah hati di hadapan manusia dan semakin takut di hadapan Allah,” pungkasnya.

Kajian ini diharapkan dapat mendorong jemaah untuk menjadi pribadi yang lebih berhati-hati dalam berucap dan bertindak, baik di dunia nyata maupun di ruang siber. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × five =