Pengantin Sang Pemimpin Arab

 Pengantin Sang Pemimpin Arab

Ilustrasi [AI]

Selanjutnya, Aus memanggil putri keduanya untuk menawarkan pernikahan dengan tokoh besar Arab tersebut. Putri kedua pun menolak dengan jujur bahwa dirinya tidak memiliki keterampilan tangan yang baik dan khawatir suaminya kelak akan melihat kekurangannya.

Aus kembali menerima keputusan tersebut dengan lapang dada dan mempersilakan putri keduanya pergi dengan iringan doa kebaikan.

Terakhir, Aus memanggil putri bungsunya yang bernama Buhaisah untuk menyampaikan tawaran pernikahan yang sama. Tanpa ragu, Buhaisah menyatakan kesiapannya dan menyerahkan keputusan akhir itu sepenuhnya kepada pertimbangan sang ayah.

Ia dengan percaya diri meyakinkan ayahnya bahwa dirinya memiliki paras yang cantik, keterampilan tangan yang mumpuni, serta keluhuran akhlak. Keberanian dan kesiapan mental putri bungsunya ini membuat Aus merasa sangat bangga dan bersyukur.

Aus segera keluar menemui para tamunya untuk mengumumkan persetujuannya atas pernikahan Buhaisah dengan Al-Harits bin Auf. Al-Harits merasa sangat bahagia atas keberhasilan misinya dan menghabiskan sisa harinya sebagai tamu kehormatan di rumah Aus.

Pada waktu malam tiba, Aus menginstruksikan jajarannya untuk menyiapkan tenda khusus bagi pasangan pengantin baru tersebut. Namun, saat Al-Harits hendak mendekati Buhaisah di dalam kamar, pengantin perempuan itu langsung memberikan penolakan dengan tegas.

Buhaisah mengingatkan bahwa tidak pantas bagi seorang tokoh besar melakukan hubungan pernikahan di lingkungan keluarga mempelai wanita tanpa rasa sungkan. Al-Harits menerima argumen tersebut, dan keesokan harinya seluruh rombongan bergerak membawa tandu pengantin menuju kampung halaman Al-Harits.

Setibanya di sana, kedatangan mereka disambut meriah oleh para pemuda kabilah yang mengacungkan pedang dan menyanyikan lagu sukacita. Pesta pernikahan tersebut berlangsung semarak hingga melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari tetua hingga anak-anak.

Setelah perayaan usai, Al-Harits kembali mencoba mendekati istrinya, namun Buhaisah justru mengalihkan pembicaraan pada kondisi politik Arab. Ia mempertanyakan bagaimana seorang Pemimpin Arab bisa hidup tenang di atas penderitaan perang saudara yang berkecamuk antara kabilah Abs dan Dzubyan.

Al-Harits sempat terheran-heran mengapa urusan peperangan begitu mengusik pikiran seorang wanita di malam pengantinnya. Buhaisah menegaskan bahwa dengan kekayaan melimpah yang dimiliki, Al-Harits seharusnya mampu menghentikan pertumpahan darah dan mendamaikan kedua pihak.

Ia menyatakan baru akan merasa bangga menjadi istri Pemimpin Arab jika suaminya mampu mewujudkan perdamaian tersebut. Setelah menyampaikan keluh kesah yang mendalam itu, Buhaisah pun menangis tersedu-sedu di hadapan suaminya.

Menanggapi air mata istrinya, Al-Harits segera mengumpulkan para pemuka kabilah pada keesokan harinya untuk menuju ke medan konflik. Beliau menggelontorkan harta kekayaannya yang melimpah demi membayar tebusan darah untuk mendamaikan kedua belah pihak yang bertikai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − 13 =