Pengantin Sang Pemimpin Arab
Ilustrasi [AI]
AL HARITS BIN AUF, sosok yang tersohor dengan julukan Pemimpin Arab, menoleh ke arah sepupunya sembari melontarkan sebuah pertanyaan. Beliau mempertanyakan apakah ada orang Arab yang berani menolak lamarannya jika ia meminang putri mereka.
Sang sepupu lantas memberikan saran dengan menyebut nama Aus bin Haritsah sebagai salah satu kandidatnya. Mendengar hal itu, Al-Harits menegaskan bahwa ucapan tersebut telah memicu tekadnya untuk mendapatkan jawaban langsung dari lisan Aus esok hari.
Sepanjang malam itu Al-Harits tidak dapat memejamkan mata karena diselimuti kecemasan jika lamarannya berujung pada penolakan. Sebelum matahari terbit, beliau segera bergegas melakukan perjalanan yang melelahkan bersama sepupunya menuju kediaman Aus bin Haritsah.
Rombongan tersebut akhirnya tiba di pekarangan rumah Aus tepat pada saat matahari terbenam. Sembari tetap berada di atas pelana kudunya, Al-Harits langsung menyampaikan maksud kedatangannya untuk meminang salah satu putri Aus tanpa basa-basi.
Beliau meminta kepastian apakah diperkenankan turun dari kuda atau harus segera memutar balik arah pulang. Pertanyaan yang terkesan terburu-buru itu memicu amarah Aus hingga ia mengusir mereka dan berbalik badan masuk ke rumah.
Istri Aus yang melihat keganjilan sikap suaminya itu segera datang menghampiri untuk meminta penjelasan. Aus kemudian menceritakan ihwal kedatangan Al-Harits yang hendak meminang putrinya namun bertindak angkuh karena enggan turun dari kuda.
Sang istri lantas mencoba meredakan amarah suaminya dengan menanyakan tujuan awal mereka yang memang ingin menikahkan putri-putrinya. Ia mengingatkan bahwa jika sosok Pemimpin Arab saja ditolak, maka tidak ada lagi laki-laki lain yang sepadan untuk putri mereka.
Meskipun Aus bersikeras bahwa keputusan yang telah telanjur diucapkan tidak dapat ditarik kembali, istrinya tetap mendesak untuk segera bertindak. Sang istri meminta Aus mengejar rombongan tersebut dan berdalih bahwa penolakan tadi terjadi karena kondisi psikologisnya sedang tidak baik.
Aus akhirnya luluh lalu memacu kudanya demi menyusul Al-Harits dan sepupunya yang sudah mulai menjauh. Beliau meminta mereka berhenti dan menyatakan bahwa membiarkan tamu pergi di tengah malam yang gelap bertentangan dengan kehormatan adat Arab.
Aus meminta kelonggaran waktu untuk mempertimbangkan perkara khitbah tersebut sembari menjamu mereka kembali. Al-Harits dan sepupunya pun bersedia kembali ke rumah Aus dengan perasaan yang telah tenang dan rida.
Setibanya di dalam rumah, Aus segera memanggil putri sulungnya untuk mendiskusikan pinangan dari Pemimpin Arab tersebut. Namun, setelah merenung sejenak, sang putri menolak dengan alasan bahwa dirinya tidak memiliki paras yang menawan dan berwatak tergesa-gesa.
Ia juga khawatir akan diceraikan di kemudian hari karena tidak memiliki ikatan kekerabatan dekat ataupun hubungan bertetangga yang bisa membuat Al-Harits merasa segan. Mendengar kejujuran itu, Aus bisa menerima alasannya dan mendoakan keberkahan untuk putri sulungnya.
