Nestapa Orang Tua di Gaza: Terjebak Siklus Bertahan Hidup

 Nestapa Orang Tua di Gaza: Terjebak Siklus Bertahan Hidup

Seorang perempuan memasak makanan di tendanya setelah dia kembali ke daerah Sheikh Radwan yang hancur, di utara Kota Gaza, Palestina, Kamis (6/11/2025). [Xinhua]

“Bahkan, hal-hal mendasar pun telah berubah, porsi makanan harus diperhitungkan dengan cermat, dan seluruh waktu kami tercurah untuk memenuhi kebutuhan pokok karena saya hidup di bawah tekanan yang tiada henti, tetapi saya tidak boleh menyerah,” ujarnya.

Terlepas dari segala kesulitan tersebut, Hassan menegaskan bahwa anak-anaknya tetap menjadi sumber kekuatan utama untuk terus melangkah.

“Terkadang, saya merasa sangat tertekan di dalam hati, tetapi ketika saya melihat mereka, saya terus melangkah karena mereka tidak berdosa dan tidak seharusnya menanggung apa yang sedang terjadi saat ini,” tutur wanita itu.

Seorang pekerja sosial di kamp pengungsian Jalur Gaza, Nourhan Ahmed, membenarkan bahwa konflik berkepanjangan ini telah memberikan beban psikologis dan ekonomi yang sangat besar bagi para orang tua.

“Para orang tua setiap hari berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar anak-anak mereka, sekaligus berusaha melindungi anak-anak dari trauma psikologis akibat perang,” kata Ahmed.

“Para orang tua terus-menerus menyeimbangkan antara tuntutan untuk bertahan hidup dan memberikan perhatian emosional, meskipun mereka sendiri mengalami penderitaan yang sama seperti anak-anak mereka sehingga menambah tingkat stres dan memperdalam ketidakpastian masa depan,” tambah Ahmed. [Xinhua]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three + five =