Nestapa Orang Tua di Gaza: Terjebak Siklus Bertahan Hidup
Seorang perempuan memasak makanan di tendanya setelah dia kembali ke daerah Sheikh Radwan yang hancur, di utara Kota Gaza, Palestina, Kamis (6/11/2025). [Xinhua]
Gaza (Mediaislam.id) – Para orang tua di Jalur Gaza tetap menghabiskan hari-hari mereka dengan berjuang mencari air, makanan, dan perlengkapan anak di tengah penderitaan panjang akibat perang pada peringatan Hari Orang Tua Sedunia, Senin (01/06/2026).
Meskipun gencatan senjata antara Hamas dan Israel telah diberlakukan sejak Oktober 2025, putaran konflik yang meletus sejak 7 Oktober 2023 telah mengubah jalan hidup banyak orang tua secara mendasar.
Salah satu di antaranya adalah Salim Othman (37), seorang mantan dosen universitas dan mahasiswa doktoral bidang ekonomi yang kini terpaksa mengungsi di tenda Gaza City.
“Kehidupan di Gaza adalah siklus perjuangan untuk bertahan hidup, dan kami semua terjebak dalam lingkaran setan,” ujar Othman menerangkan kondisi keluarganya.
“Alih-alih menyibukkan diri dengan penelitian dan menyelesaikan studi pascasarjana saya, kini saya justru disibukkan dengan mengantre untuk mendapatkan air dan makanan, serta memenuhi kebutuhan dasar anak-anak saya,” tutur Othman.
Nasib serupa dialami Saeed Abu Shakoush (39), pengungsi asal Rafah di Deir al-Balah yang kini harus berjuang keras menjaga rutinitas keempat anaknya di dalam tenda.
Sebelum agresi terjadi, Shakoush selalu mampu memenuhi kebutuhan pendidikan dan rekreasi anak-anaknya seperti bermain sepak bola, berhitung cepat, dan catur.
“Sekarang, saya nyaris tidak bisa memenuhi kebutuhan harian mereka,” ujarnya dengan nada prihatin.
Ia mengimbuhkan bahwa fokus utamanya saat ini hanyalah bertahan hidup untuk jangka pendek dan bukan lagi memikirkan perencanaan masa depan.
Sementara itu di Gaza City, Mariam Hassan (29) harus mengasuh ketiga anak dan adik perempuannya seorang diri setelah kehilangan suami serta orang tuanya akibat serangan udara Israel.
“Saya tidak lagi memikirkan diri saya sendiri,” kata Hassan saat diwawancarai oleh Xinhua.
“Setiap hari dimulai dengan pertanyaan yang sama: bagaimana saya akan memberi makan anak-anak saya, dan bagaimana saya bisa menyediakan air atau obat-obatan jika mereka membutuhkannya?” imbuhnya.
Ia menambahkan bahwa waktu tidurnya kini menjadi sangat tidak teratur akibat kelelahan dan rasa takut yang dipicu oleh pengeboman yang terus berlangsung.
