Meski DIbatasi Israel, Puluhan Ribu Jamaah Saalat Jumat di Al-Aqsha
Yerusalem (Mediaislam.id) — Puluhan ribu warga Palestina menunaikan shalat Jumat di Masjid Al-Aqsha pada Jumat (25/9/2026), meskipun kepolisian Israel memberlakukan pembatasan ketat terhadap warga Palestina yang berusaha memasuki Yerusalem Timur yang diduduki.
Departemen Wakaf Islam di Yerusalem menyatakan bahwa puluhan ribu jamaah berhasil melaksanakan shalat Jumat di Al-Aqsha di tengah peningkatan pengerahan pasukan militer Israel di sekitar Yerusalem dan Kota Tua.
Pasukan Israel memasang pos pemeriksaan serta barikade besi di berbagai pintu masuk Yerusalem, Kota Tua, dan kawasan Masjid Al-Aqsha. Pembatasan tersebut menghalangi sejumlah pemuda Palestina mencapai masjid setelah mereka dihentikan di pos-pos pemeriksaan dan dilarang melanjutkan perjalanan.
Meski demikian, warga Palestina dari berbagai wilayah Yerusalem Timur yang diduduki tetap berhasil menuju Al-Aqsha, tempat puluhan ribu jamaah berkumpul untuk menunaikan shalat Jumat.
Peneliti Peringatkan Eskalasi Saat Sukkot
Peneliti urusan Yerusalem, Ziad Ibhais, memperingatkan bahwa Masjid Al-Aqsha akan menghadapi gelombang eskalasi baru seiring dimulainya hari raya Yahudi Sukkot, yang berlangsung mulai Sabtu, 26 September hingga Jumat, 2 Oktober.
Menurut Ibhais, Sukkot dalam beberapa tahun terakhir semakin menjadi periode utama meningkatnya penyusupan pemukim Yahudi ke kompleks Al-Aqsha serta upaya pelaksanaan ritual keagamaan Yahudi di dalam kawasan masjid.
Ia menjelaskan bahwa Sukkot, yang juga dikenal sebagai Hari Raya Pondok Daun (Feast of Tabernacles), merupakan salah satu dari tiga hari raya ziarah dalam Taurat. Kelompok-kelompok yang mengadvokasi pembangunan kuil Yahudi di lokasi tersebut memanfaatkan momentum itu untuk meningkatkan jumlah warga Israel yang memasuki kompleks Al-Aqsha sekaligus mendorong pelaksanaan ritual keagamaan di sana.
Ibhais menyebut kelompok-kelompok tersebut menggunakan simbol-simbol keagamaan Sukkot dalam tiga cara utama:
* meningkatkan intensitas penyusupan ke kompleks Al-Aqsha;
* berupaya memasukkan persembahan tumbuhan beserta ritual yang berkaitan dengan Sukkot ke dalam kawasan masjid;
* mendirikan sukkah (pondok ritual) di dekat Gerbang Magharibeh sebagai fasilitas bagi warga Israel yang memasuki lokasi tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun Ibhais, Sukkot mencatat salah satu angka tertinggi masuknya pemukim Yahudi ke Al-Aqsha dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2024, sekitar 5.980 pemukim memasuki kompleks Masjid Al-Aqsha selama lima hari perayaan, dengan rata-rata 1.196 orang per hari.
Sementara pada 2025, jumlah tersebut meningkat menjadi 7.119 pemukim dalam lima hari, atau rata-rata 1.424 orang per hari, meningkat sekitar 19 persen dibanding tahun sebelumnya.
Ibhais menilai kelompok-kelompok pendukung pembangunan kuil tidak lagi memanfaatkan Sukkot semata sebagai perayaan keagamaan, tetapi sebagai sarana menciptakan realitas baru di Masjid Al-Aqsha. Menurutnya, mereka secara bertahap bergerak dari sekadar memasuki kompleks menuju pelaksanaan ritual keagamaan dan upaya membangun kehadiran religius Yahudi secara permanen di dalam maupun sekitar kawasan suci tersebut.
Ia memperingatkan bahwa beberapa hari ke depan berpotensi terjadi peningkatan jumlah pemukim yang memasuki Al-Aqsha, disertai upaya membawa benda-benda ritual dan melaksanakan ritual keagamaan di dalam kompleks masjid, terutama karena Sukkot bertepatan dengan rangkaian hari raya Yahudi lainnya.
Menutup peringatannya, Ibhais menyerukan agar warga Palestina memperkuat kehadiran mereka di Masjid Al-Aqsha dengan terus mendatangi dan menjaga keberadaan jamaah di kawasan suci tersebut. Menurutnya, mobilisasi masyarakat Palestina selama ini terbukti menjadi salah satu cara paling efektif untuk menghadapi upaya pemaksaan realitas baru di Al-Aqsha.
sumber: infopalestina
