Menghidupkan (Kembali) Dakwah di Perguruan Tinggi

 Menghidupkan (Kembali) Dakwah di Perguruan Tinggi

Dr Hambari PhD

Fenomena kasus pelecehan seksual yang mencuat di sejumlah perguruan tinggi ternama belakangan ini menjadi ironi yang menyayat nalar publik. Institusi yang seharusnya menjadi ruang aman dan bermartabat bagi para penuntut ilmu justru tercoreng oleh tindakan yang merendahkan harkat kemanusiaan.

Korban tidak hanya dari kalangan mahasiswa, tetapi juga dosen perempuan, mereka yang semestinya dihormati dan dijaga dalam ekosistem akademik. Fakta ini menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual yang tinggi tidak serta-merta menjamin lahirnya perilaku yang beradab. Ada celah serius dalam pembinaan moral dan penguatan nilai akhlak yang selama ini luput dari perhatian sistem pendidikan tinggi.

Perguruan tinggi selama ini cenderung menitikberatkan pada capaian kognitif dan aspek materi saja: indeks prestasi, publikasi ilmiah, dan kompetensi teknis. Namun, pendidikan sejatinya tidak hanya soal transfer ilmu pengetahuan, melainkan juga pembentukan karakter dan adab serta perbaikan perilaku. Mahasiswa bukan sekadar calon tenaga kerja, melainkan manusia utuh yang harus memiliki integritas, kejujuran, empati, dan kesadaran moral.

Pendidikan yang mengabaikan dimensi afektif dan spiritual akan menghasilkan individu yang mungkin cerdas secara intelektual, tetapi rapuh dalam pengendalian diri dan buruk pada nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pendidikan yang serius dan lebih komprehensif yang memadukan antara ilmu pengetahuan dengan pembinaan akhlak.

Di sinilah peran strategis pimpinan perguruan tinggi dan dosen menjadi sangat penting. Mereka bukan hanya pengelola dan pengajar, tetapi juga teladan moral bagi seluruh warga kampus. Penanaman nilai-nilai spiritual, etika, dan adab harus menjadi bagian integral dari kehidupan akademik, bukan sekadar pelengkap.

Lingkungan kampus perlu dibangun sebagai lingkungan yang baik (Biah shalihah), juga menjadi ruang yang aman, ruang untuk menumbuhkan kesadaran diri, tanggung jawab sosial, dan penghormatan terhadap sesama. Upaya ini dapat diwujudkan melalui kebijakan yang berpihak pada penguatan karakter, integrasi nilai adab dalam kurikulum, serta keteladanan nyata dalam interaksi sehari-hari.

Lebih jauh, menghidupkan kembali kegiatan dakwah di perguruan tinggi menjadi langkah penting yang tidak boleh diabaikan. Dakwah dalam konteks kampus bukan sekadar ceramah formal, melainkan gerakan sistematis dan komprehensif yang menanamkan nilai-nilai kebaikan dan menghilangkan nilai-nilai keburukan (amar ma’ruf nahi munkar) secara berkelanjutan.

Masjid kampus dapat difungsikan sebagai pusat pembinaan spiritual dan moral, tempat lahirnya komunitas-komunitas pengajian yang inklusif dan mencerahkan. Kegiatan seperti kajian rutin, diskusi keislaman, dan mentoring keagamaan mampu menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan karakter bagi mahasiswa, tenaga kependidikan dan dosen.

Upaya-upaya tersebut, jika dilakukan secara konsisten dan terstruktur, diyakini mampu mencegah atau setidaknya meminimalisir perilaku yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan akhlak. Dakwah yang hidup di kampus akan membentuk atmosfer yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga sehat secara moral dan spiritual. Perguruan tinggi pun dapat kembali pada hakikatnya sebagai tempat lahirnya insan berilmu yang beradab, mereka yang tidak hanya unggul dalam kompetensi, tetapi juga unggul dalam karakter dan perilaku.

Dr. Hambari, M.A.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Dakwah, Universitas Ibn Khaldun Bogor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × three =