Membentuk Pendidikan yang Menumbuhkan

 Membentuk Pendidikan yang Menumbuhkan

Ilustrasi: Santri membaca kitab. [foto: belajarkreatif.org]

Peringatan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2026 menjadi momentum yang tepat untuk melakukan refleksi dan melihat kembali proses dan arah pendidikan kita. Selama ini, berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan, namun yang menjadi pertanyaannya: apakah pendidikan kita benar-benar sudah menumbuhkan manusia seutuhnya?

Refleksi ini penting, bukan hanya bagi pemerintah, tetapi juga bagi guru, dosen, orang tua, dan masyarakat luas secara umum. Pendidikan tidak boleh berhenti pada angka-angka statistik atau pada dokumen-dokumen laporan administrasi semata, melainkan harus terus ditingkatkan baik dari sisi kualitas, mutu maupun jangkauannya, serta benar-benar berpihak kepada kebutuhan masyarakat.

Pendidikan hakikatnya adalah untuk semua. Ia bukan hak segelintir kelompok, melainkan hak seluruh rakyat tanpa kecuali. Konstitusi telah menjamin hal ini dengan tegas. Karena itu, tidak boleh ada anak bangsa yang tertinggal hanya karena faktor kondisi ekonomi, geografis, atau status sosial. Ketika masih ada kesenjangan akses dan kualitas, itu berarti tanggung jawab dan pekerjaan rumah kita belum selesai. Pendidikan harus hadir sebagai jembatan keadilan, pemutus rantai kemiskinan, tangga menuju kesejahteraan dan kemajuan, bukan justru memperlebar jurang ketimpangan dan kesenjangan.

Institusi pendidikan bukanlah pabrik yang sekadar mencetak tenaga kerja siap pakai, melainkan ruang hidup yang menumbuhkan akal budi, adab, karakter, dan kesadaran kritis manusia sebagai bagian dari peradaban. Di dalamnya, peserta didik tidak hanya dibekali keterampilan teknis untuk memenuhi kebutuhan pasar atau industri, tetapi juga dididik untuk memahami nilai, etika, kreativitas, dan tanggung jawab sosial yang lebih luas.

Pendidikan yang sejati mendorong lahirnya individu yang mampu berpikir dan berjiwa mandiri, berinovasi, serta berkontribusi bagi kemajuan masyarakat, bukan sekadar menjadi roda dalam mesin ekonomi. Institusi pendidikan seharusnya berperan sebagai pusat pembentukan peradaban, tempat lahirnya gagasan, solusi, dan pemimpin masa depan yang berorientasi pada kemaslahatan. Tentunya untuk mencapai hal ini, Negara perlu hadir memberikan dukungan kepada institusi pendidikan, serta serius berinvestasi pada bidang pendidikan.

Dalam perspektif Islam, pendidikan memiliki posisi yang sangat penting. Ia bukan sekadar sarana untuk memperoleh pengetahuan, tetapi merupakan fondasi utama yang kokoh bagi kemajuan dan peradaban. Sejarah menunjukkan bahwa kejayaan suatu umat tidak lepas dari kualitas pendidikannya. Namun, pendidikan dalam makna yang lebih dalam dan komprehensif, bukan hanya soal transfer ilmu di ruang kelas atau kuliah. Ia mencakup pembentukan kepribadian, karakter, akhlak, dan cara pandang (Worldview) hidup yang utuh. Pendidikan harus mampu membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkompeten, beradab, bijaksana dan berintegritas.

Menariknya, dalam bahasa Arab, pendidikan dikenal dengan istilah tarbiyah, yang berasal dari akar kata yang sama dengan “menumbuhkan” atau “menyuburkan”. Ini memberikan gambaran bahwa pendidikan bukan proses instan, melainkan perjalanan panjang yang penuh perjuangan (mujahadah) dan kesabaran (Shabr). Seperti halnya tanaman, manusia perlu dirawat, dibimbing, dan diberi ruang untuk berkembang sesuai potensinya.

“..Kamu lihat bumi itu kering. Jika Kami turunkan air (hujan) di atasnya, ia pun hidup dan menjadi subur serta menumbuhkan berbagai jenis (tetumbuhan) yang indah.” (QS. Al-Hajj: 5).

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu menumbuhkembangkan jiwa, akal dan raga secara seimbang, di bawah tuntunan aturan dari Yang Maha Kuasa.

Hambari
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Dakwah Universitas Ibn Khaldun Bogor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × 3 =