Lestarikan Tradisi Pesantren, Kemenag Gagas ASN Pakai Sarung dan Peci Tiap Pekan
Ilustrasi: ASN bersarung.
“Direktorat Jenderal Pesantren merencanakan, jika disetujui oleh Pak Menteri Agama, kami akan mencoba menetapkan satu hari kerja khusus di lingkungan Ditjen Pesantren untuk menggunakan sarung,” kata Basnang.
Hari Selasa dipilih karena penggunaan sarung dinilai cocok dipadukan dengan kemeja kerja berwarna putih yang biasa dikenakan pegawai.
“Semoga bisa kita anggap Selasa Bersarung. Kenapa? Karena kalau Selasa masih menggunakan baju putih, apa pun bentuk sarungnya tetap nyambung dengan bajunya,” kata dia.
Basnang menjelaskan, inisiatif ini tidak sekadar berkaitan dengan program perubahan tata cara berpakaian para abdi negara. Langkah ini merupakan upaya strategis untuk menghidupkan kembali kesadaran publik tentang nilai luhur dalam tradisi pesantren.
Kendati demikian, Basnang mengakui bahwa penggunaan sarung pernah dihadapkan pada pandangan stereotip yang mengaitkannya dengan keterbelakangan. Memakai sarung kerap dianggap sebagai ciri kehidupan tradisional yang tidak sejalan dengan laju modernitas.
Pandangan sempit semacam itu, menurutnya, perlu segera diluruskan agar masyarakat tidak salah kaprah. Kemajuan seseorang tidak semestinya dinilai dari busana, melainkan dari keluasan pengetahuan, kualitas pemikiran, serta kontribusinya bagi lingkungan.
“Padahal, ukuran modern atau tradisional itu bukanlah terletak pada pakaian yang kita kenakan, melainkan pada cara berpikir dan cara kita memandang sesuatu,” kata Basnang.[]
