Keutamaan Umroh

 Keutamaan Umroh

Bagi seorang Muslim, rindu kepada Ka’bah adalah rindu yang istimewa. Ia bukan sekadar rindu pada bangunan batu, melainkan rindu pada Baitullah (Rumah Allah), tempat di mana langit dan bumi bertemu dalam sujud, dan di mana doa-doa hamba yang tertunduk diangkat ke langit ketujuh.

Umroh, yang secara bahasa berarti “berkunjung”, adalah ibadah yang memiliki kedudukan agung dalam Islam. Meskipun para ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya (apakah wajib sekali seumur hidup atau sunnah muakkadah), tidak ada yang menyangkal besarnya pahala dan kemuliaan yang dijanjikan Allah bagi para pelakunya.

Berikut adalah uraian keutamaan umroh berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Hadis.

1. Perintah untuk Menyempurnakan Ibadah

Allah SWT secara khusus menyebutkan umroh dalam Al-Qur’an, memerintahkan hamba-Nya untuk menyempurnakan pelaksanaannya. Ini menunjukkan bahwa umroh adalah syiar Allah yang agung.

Allah SWT berfirman: “…Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah...” (QS. Al-Baqarah: 196)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan ayat ini sebagai perintah untuk melaksanakan kedua ibadah tersebut dengan sempurna dan ikhlas.

2. Penghapus Dosa di Antara Dua Umroh

Salah satu keutamaan terbesar umroh adalah kemampuannya membersihkan hati dari noda-noda dosa. Ibadah ini menjadi sarana taubat dan kembali kepada fitrah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Umrah yang satu ke umrah berikutnya adalah kaffarat (penghapus dosa) yang dikerjakan di antara keduanya…” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349)

Ini berarti, jika seseorang melakukan umroh, lalu beberapa waktu kemudian melakukan umroh lagi, maka dosa-dosa kecil yang ia lakukan di sela-sela waktu tersebut akan diampuni oleh Allah SWT.

3. Pahala Umroh di Bulan Ramadan Setara dengan Haji

Ini adalah “diskon” spiritual yang luar biasa dari Allah SWT. Bagi mereka yang tidak mampu menunggu musim haji atau memiliki keterbatasan waktu, umroh di bulan Ramadan menjadi alternatif dengan pahala yang luar biasa besar.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seorang wanita Anshar: “Apa yang menghalangimu untuk berhaji bersama kami?” Wanita itu menjawab, “Kami hanya punya dua unta yang dipakai untuk membawa air… (sehingga ayah dan anaknya tidak bisa berangkat haji).” Nabi bersabda: “Jika Ramadan tiba, berumrahlah saat itu, karena umrah di bulan Ramadan setara dengan haji.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Setara dengan haji bersamaku.” (HR. Bukhari no. 1863 dan Muslim no. 1256)

4. Menjadi Tamu Allah (Duyufullah)

Orang yang berangkat umroh (dan haji) menyandang gelar kehormatan sebagai tamu Allah. Seorang tamu memiliki hak untuk dimuliakan oleh tuan rumahnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang haji, dan orang yang umrah adalah tamu-tamu Allah (duyufullah). Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan-Nya. Jika mereka meminta, Allah akan memberi, dan jika mereka berdoa, Allah akan mengabulkannya.” (HR. Ibnu Majah no. 2893 dan An-Nasa’i. Dishahihkan oleh Al-Albani)

Bayangkan betapa mulianya posisi seorang hamba yang sedang berada di Tanah Haram; doanya mustajab dan permohonannya diijabah.

5. Menghilangkan Kemiskinan dan Dosa

Ada kekhawatiran bagi sebagian orang bahwa berangkat ke Tanah Suci akan menguras harta dan menyebabkan kemiskinan. Rasulullah memberikan jaminan bahwa umroh justru membawa keberkahan rezeki.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak.” (HR. Tirmidzi no. 810, An-Nasa’i no. 2631. Dinilai Hasan oleh Syaikh Al-Albani)

Hadis ini memberikan motivasi bahwa harta yang dikeluarkan untuk umroh bukanlah kerugian, melainkan investasi akhirat yang justru menarik datangnya rezeki dan keberkahan.

6. Umroh adalah Jihad bagi Kaum Lemah

Bagi wanita, orang tua, atau mereka yang tidak mampu mengangkat senjata dalam peperangan (jihad qital), umroh menjadi sarana jihad yang mulia.

Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah wajib bagi kami (kaum wanita) untuk berjihad?” Nabi menjawab: “Ya, bagi mereka jihad yang tidak ada perang-perangannya, yaitu haji dan umrah.” (HR. Ibnu Majah no. 2901. Dishahihkan oleh Al-Albani)

7. Jaminan Surga bagi yang Mabrur

Meskipun hadis yang secara spesifik menyebutkan “Haji Mabrur tiada balasan selain Surga” lebih masyhur, para ulama sepakat bahwa umroh yang diterima (mabrur) juga merupakan jalan menuju surga, mengingat status pelakunya sebagai tamu Allah yang doanya dikabulkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dari umrah ke umrah adalah penghapus dosa di antaranya, dan haji mabrur tidak ada balasan selain surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Para ulama memasukkan keutamaan penghapusan dosa dan jaminan surga ini dalam konteks ibadah haji dan umroh yang dilakukan dengan syarat yang benar (ikhlas dan sesuai sunnah).

Umroh bukanlah sekadar perjalanan wisata rohani, melainkan panggilan Rabbul Izzati. Ia adalah perjalanan untuk menanggalkan ego duniawi, mengenakan kain ihram yang melambangkan kesederhanaan dan kesetaraan di hadapan Allah, serta mengelilingi Ka’bah sebagai manifestasi cinta kepada Sang Pencipta.

Jangan menunda-nunda panggilan ini jika kemampuan telah ada. Sebab, kita tidak pernah tahu apakah kita masih diberi napas untuk kembali menyapa Hajar Aswad dan berdoa di Multazam tahun depan.

Ya Allah, undanglah kami, orang tua kami, dan keluarga kami untuk menjadi tamu-Mu di Baitullah. Terimalah umrah kami, ampunilah dosa kami, dan kembalikan kami dalam keadaan suci sebagaimana bayi yang baru lahir. Aamiin. (SF)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three + sixteen =