Kehidupanku

 Kehidupanku

Ilustrasi: Seorang anak belajar membaca Al-Qur’an bersama ayahnya. [AI]

Jika kedapatan asisten yang berparas cantik, maka bersiaplah ia menghadapi kesulitan besar di rumah ini. Akhirnya, aku memutuskan untuk menyerahkan sepenuhnya urusan pelayan ini kepada istriku, agar dia bebas memberhentikan atau menerima siapa saja yang dia kehendaki.

Masalah kedua berkaitan dengan metode komunikasi untuk saling memahami. Dahulu, aku meyakini bahwa logika dan akal sehat adalah satu-satunya instrumen alami untuk mencapai kesepahaman saat menghadapi masalah.

Namun, setelah melewati rangkaian pengalaman hidup yang panjang, aku menyadari bahwa berdebat menggunakan logika adalah metode paling tidak efektif saat menghadapi mayoritas wanita yang kutemui. Ketika engkau berbicara mengarah ke timur, mereka akan menyahut ke arah barat; ketika engkau berbicara tentang langit, mereka akan membalas tentang bumi.

Engkau mengajukan argumen-argumen logis, tetapi di mata mereka, semua dalil itu sama sekali tidak memiliki nilai. Begitulah dinamika rumah tangga kami, yang adakalanya tenang bagaikan laut yang teduh, tetapi sewaktu-waktu badai masalah datang menggulung ombaknya sebelum akhirnya badai itu reda dan laut kembali ke ketenangannya.

Aku dikaruniai anak pertama tidak lama setelah pernikahan kami dilangsungkan. Perhatianku tercurah sepenuhnya kepada anak itu, bahkan aku sengaja membaca beberapa buku berbahasa Inggris dan Arab tentang pengasuhan anak.

Harus kuakui, aku cenderung bersikap keras kepada anak-anak pertamaku. Aku menerapkan pengawasan yang sangat ketat terhadap aktivitas belajar dan perkembangan moral mereka.

Aku tidak segan memberikan sanksi atas penyimpangan perilaku mereka sekecil apa pun. Aku pun hanya memberikan ruang kebebasan yang sangat terbatas kepada mereka.

Namun, seiring bertambahnya usiaku dan semakin luasnya cara pandangku, aku mulai mengurangi intervensi tersebut. Aku pun mulai memberikan porsi kebebasan yang jauh lebih besar kepada mereka.

Aku telah melewati banyak sekali dinamika dan kepayahan dalam mendidik anak, baik terkait kesehatan, pendidikan, maupun perilaku mereka. Aku bersyukur kepada Allah karena telah berhasil memikul tanggung jawab besar ini dan mengarahkan mereka dengan sangat baik.

Curahan kasih sayangku dan ibu mereka sangatlah berlimpah untuk mereka. Kami rela mengorbankan kebahagiaan kami demi kebahagiaan mereka, dan rela berlelah-lelah demi kenyamanan hidup mereka.

Kami hanya berharap agar Allah Swt. semata yang memberikan balasan atas segala pengorbanan ini. Sebab anak-anak adakalanya justru menghakimi kami atas satu patah kata kecil saja, yang mereka anggap dapat melukai perasaan mereka.

Menurut pandanganku, mengasuh dan mendidik anak bukanlah sebuah proses pertukangan yang sengaja memberi untuk menerima kembali, atau menjual demi meraup keuntungan materi. Mendidik anak adalah sebuah kewajiban suci yang ditunaikan oleh para orang tua demi masa depan anak-anak mereka dan kemajuan bangsanya.

Jika anak-anak kelak menghargai pengorbanan itu lalu menunaikan bakti kepada orang tuanya, maka itu adalah sebuah kesyukuran. Namun jika tidak, para orang tua setidaknya telah menunaikan kewajiban hidup mereka, dan Allahlah sebaik-baik pemberi balasan.[]

(Disadur dari karya Ahmad Amin, dalam Al-Arabiyyah Lin Nasyiin Jilid 6)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

thirteen + 2 =