Kehidupanku
Ilustrasi: Seorang anak belajar membaca Al-Qur’an bersama ayahnya. [AI]
Masalah lainnya muncul karena profesiku sebagai seorang guru yang harus mempersiapkan materi pelajaran pada malam hari untuk diajarkan esok paginya. Lebih dari itu, aku juga sangat gemar membaca buku di luar materi pelajaranku.
Di sisi lain, istriku adalah seorang wanita dengan tingkat pendidikan yang terbatas, yang hanya gemar membaca kisah-kisah dan novel ringan. Dia menghabiskan waktu sepanjang pagi seorang diri untuk menyiapkan makanan dan membersihkan rumah.
Namun, bagaimana cara dia menghabiskan waktu malamnya sendirian sementara aku berada di ruang kerja yang tepat berada di sebelahnya untuk membaca dan menulis? Terlebih lagi, saat itu adalah hari-hari pertama pernikahan kami.
Pada suatu malam, dia menyiapkan makan malam lalu membuka pintu ruang kerjaku untuk mengabarkan bahwa hidangan telah siap. Saking fokusnya, aku tidak mendengar panggilannya dan tidak menyadari ketika pintu dibuka.
Istriku seketika marah besar atas kejadian itu dan mengadukan sikapku kepada keluarganya. Aku memang tidak mampu mengubah tabiat asliku, tetapi masalah tersebut perlahan mulai terurai dengan lahirnya anak pertama kami yang kemudian disusul oleh kelahiran anak-anak berikutnya.
Setelah istriku memahami karakterku dan aku pun memahami karakternya, kompromi dan saling pengertian akhirnya tercapai. Sejak saat itu, dimulailah kehidupan rumah tangga yang tenang lagi bahagia.
Di dalam kehidupan baru ini, kami memprioritaskan kemaslahatan anak-anak dan penciptaan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang mereka. Namun, atmosfer yang tenang tersebut adakalanya terusik oleh dua permasalahan utama.
Masalah yang pertama adalah urusan pelayan rumah tangga. Rumah kami tidak bisa lepas dari keberadaan mereka, tetapi kehadiran mereka juga kerap mendatangkan rasa tidak nyaman.
Permasalahan pelayan ini menjadi problem kronis di rumah kami, khususnya terkait dengan asisten rumah tangga wanita. Istriku adalah tipe wanita temperamental yang menuntut agar seluruh perintahnya dilaksanakan tanpa celah.
Sementara itu, para asisten rumah tangga adakalanya tidak bekerja dengan baik, tidak mampu, atau bahkan bersikap keras kepala. Kondisi tersebut memicu kemarahan istriku, dan jika aku mencoba menengahi konflik di antara mereka, pusaran pertikaian itu seketika berbalik menyerangku.
Selain itu, istriku adalah seorang wanita yang pencemburu. Dia sama sekali tidak suka jika asisten rumah tangga di rumah kami memiliki paras yang menawan.
