Dua Ribu Jemaah Ikuti Shalat Jenazah Tiga Muslim yang Gugur Hadang Aksi Teror di Islamic Center San Diego
Ribuan umat Islam di San Diego menyalati jenazah tiga pahlawan yang gugur di Islamic Center, Kamis (21/05/2026) [Reuters]
“Kami mengategorikan aksi ini sebagai kejahatan kebencian (hate crime) sampai terbukti sebaliknya,” tegas Kepala Kepolisian San Diego, Scott Wahl, sesaat setelah insiden penembakan terjadi.
Pihak kepolisian menyatakan bahwa tindakan cepat yang dilakukan oleh ketiga korban tersebut berhasil mencegah terjadinya pertumpahan darah yang jauh lebih besar.
Aksi penembakan brutal itu dimulai sekitar pukul 11.43 waktu Pasifik (Pacific Time atau 18.43 GMT), ketika Amin Abdullah yang bertugas sebagai penjaga keamanan pusat Islam terlibat baku tembak sengit dengan para remaja penyerang.
Pihak kepolisian mengungkapkan bahwa Amin Abdullah menggunakan radio komunikasinya untuk memerintahkan penguncian total (lockdown) di area masjid yang mengintegrasikan sekolah dasar dengan 140 siswa di dalamnya.
Tindakan taktisnya tersebut dinilai telah memberikan waktu yang sangat krusial bagi anak-anak dan staf sekolah untuk segera bersembunyi di dalam ruang kelas serta lemari.
Sementara itu, Nadir Awad yang istrinya bekerja sebagai guru di pusat Islam tersebut tinggal tepat di seberang jalan dari masjid.
Nadir Awad bersama Mansour Kaziha yang merupakan teknisi sekaligus juru masak pusat Islam langsung berlari menuju pusat Islam untuk memberikan bantuan begitu mendengar suara rentetan tembakan.
Ketiga pria Muslim pemberani tersebut akhirnya gugur syahid akibat luka tembak parah yang mereka derita.
Para pelaku teror langsung melarikan diri dari masjid menggunakan kendaraan mereka dan belakangan ditemukan tewas bunuh diri dengan menembak diri mereka sendiri, demikian pernyataan resmi kepolisian.
Khaled Abdullah (24 tahun), putra dari penjaga keamanan yang gugur, menyatakan bahwa pihak keluarga mendapatkan kekuatan besar dari cara mulia ayahnya menjemput ajal.
“Kenyataan bahwa beliau berada di garis depan untuk membela anak-anak dan orang-orang yang tidak bersalah membuat saya merasa bangga,” ujar Khaled kepada kantor berita Reuters pada Rabu (20/05/2026).
“Menyebut beliau sebagai seorang pahlawan adalah hal paling minimal yang bisa kami lakukan,” pungkasnya tegas.
Sumber: Reuters
