Cinta Quran Foundation dan RS Islam Bogor Luncurkan Rumah Sakit Wakaf

 Cinta Quran Foundation dan RS Islam Bogor Luncurkan Rumah Sakit Wakaf

Konferensi pers peluncuran program Rumah Sakit Wakaf di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Jakarta (Mediaislam.id)–Cinta Quran Foundation bekerja sama dengan Rumah Sakit Islam Bogor (RSIB) meluncurkan program Rumah Sakit Wakaf untuk memperluas akses layanan kesehatan yang terjangkau bagi masyarakat, khususnya kaum dhuafa. Program ini menargetkan penghimpunan dana wakaf hingga Rp200 miliar untuk renovasi gedung lama, pembangunan gedung baru, serta pengadaan fasilitas kesehatan.

Peluncuran program tersebut berlangsung di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (29/10/2026). Acara dihadiri Founder Cinta Quran Foundation Ustaz Fatih Karim, Ketua Yayasan RSIB Dokter Dwi Sudharto, ulama KH Didin Hafidhuddin, Anggota Komisi IX DPR RI Dokter Gamal Albinsaid, dan aktor Arie Untung.

Ustaz Fatih Karim mengatakan, program Rumah Sakit Wakaf merupakan kelanjutan dari kiprah Cinta Quran Foundation dalam bidang pendidikan, dakwah, dan pembangunan masjid. Menurut dia, layanan kesehatan menjadi bidang penting yang perlu dikembangkan untuk memperluas manfaat wakaf bagi masyarakat.

“Dananya dari umat, dikelola secara profesional, dan hasilnya kembali dinikmati oleh umat,” ujar Ustaz Fatih.

Ia menjelaskan, Cinta Quran Foundation sebelumnya telah mengembangkan Cinta Quran Center sebagai kampus para dai. Hingga angkatan keenam, sekitar 500 santri dari berbagai daerah di Indonesia telah mengikuti pendidikan dengan beasiswa penuh.

Selain pendidikan, lembaga tersebut juga membangun Sekolah Alam An-Naba di Bogor dan sejumlah sekolah di berbagai daerah. Dalam bidang dakwah, Cinta Quran Foundation telah menghadirkan 99 masjid Asmaul Husna di berbagai wilayah Indonesia.

Ustaz Fatih mengatakan, gagasan pengembangan rumah sakit berbasis wakaf muncul setelah KH Didin Hafidhuddin mengingatkan pentingnya bidang kesehatan dalam pelayanan umat.

Rumah sakit yang menjadi bagian dari program tersebut telah berdiri di Jalan Baru, Bogor, tepatnya di belakang Universitas Islam Ibnu Khaldun (UIKA). Melalui kolaborasi ini, pengelola berencana merenovasi bangunan lama dan membangun gedung baru untuk memperluas pelayanan.

Menurut Ustaz Fatih, program tersebut menargetkan 100 persen keuntungan pengelolaan rumah sakit dikembalikan untuk kepentingan umat. Dana itu direncanakan untuk membiayai pengobatan gratis bagi 10.000 pasien dhuafa dan memberikan 10.000 beasiswa bagi tenaga pengajar medis di seluruh Indonesia.

Ia menjelaskan, pengelolaan rumah sakit akan mengandalkan berbagai sumber pemasukan, antara lain layanan pasien berbayar, kerja sama dengan BPJS Kesehatan, zakat, wakaf, serta usaha pendukung seperti apotek, kafe, dan restoran.

“Jadi diharapkan dengan seperti itu, ya na’udzubillahi min dzalik teman-teman jangan sakit, tapi kalau sakit biayanya sangat terjangkau, bahkan bisa jadi free, tidak dipungut biaya. Itu impian kita semuanya insyaallah,” kata Ustaz Fatih.

Ia menyebutkan, kebutuhan dana untuk program tersebut diperkirakan mencapai Rp170 miliar hingga Rp200 miliar. Penggalangan dana akan terus dilakukan, dengan puncak kampanye yang diharapkan berlangsung pada Ramadhan. Jika penghimpunan dana berjalan sesuai rencana, pembangunan ditargetkan rampung pada 2027 hingga 2029.

Ustaz Fatih juga menjelaskan, konsep wakaf memungkinkan masyarakat berkontribusi dalam pengadaan peralatan medis. Ia mencontohkan, kebutuhan alat pemindai CT scan dapat dipenuhi melalui penggalangan wakaf bersama sehingga fasilitas tersebut bisa digunakan untuk melayani pasien dengan biaya terjangkau.

 

Layani Pasien Dhuafa

Ketua Yayasan RSIB Dokter Dwi Sudharto mengatakan, kerja sama dengan Cinta Quran Foundation berangkat dari kesamaan visi untuk menghadirkan pelayanan kesehatan Islami yang memadai bagi masyarakat.

Ia menyebutkan, jumlah kunjungan pasien RSIB meningkat dari 62.648 pada 2021 menjadi 107.971 pada 2025.

Dwi mengatakan, rumah sakit berupaya memberikan pelayanan kepada pasien tanpa menambah beban kecemasan mereka, terutama ketika menghadapi persoalan biaya pengobatan.

“Saya sudah katakan kepada direktur kita, yang sakit itu membawa kecemasan, membawa harapan dan juga amanah untuk kita, bawa keluarga. Jangan bikin cemas lagi dia. Ya, oleh karena itu jangan tanya uang. Layani! Nanti uangnya saya tanggung jawab,” ujar Dwi.

Ia menambahkan, hingga akhir September 2026, sebanyak 617 pasien dhuafa dan ulama telah mendapatkan bantuan pelayanan kesehatan. Menurut dia, rumah sakit juga berupaya membantu pasien yang mengalami kesulitan setelah kepesertaan Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan mereka dinonaktifkan.

Dwi berharap dukungan wakaf masyarakat dapat memperkuat keberlangsungan rumah sakit sekaligus memperluas pelayanan kepada kelompok yang membutuhkan.

 

Wakaf untuk Kepentingan Masyarakat

Ulama KH Didin Hafidhuddin mengajak masyarakat mendukung program Rumah Sakit Wakaf melalui doa, keahlian, tenaga, dan harta benda. Ia menilai, pembangunan fasilitas kesehatan merupakan bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Didin, kesehatan merupakan bagian dari muamalah yang memiliki keterkaitan erat dengan ibadah. Karena itu, pelayanan kesehatan perlu dikembangkan melalui semangat kebersamaan dan kepedulian sosial.

Ia juga menegaskan, pelayanan kesehatan bagi kaum dhuafa tidak boleh dibatasi oleh perbedaan agama.

“Muslim kah, nonmuslim, ketika dia dhuafa, ya, kemudian dia datang ke Rumah Sakit Islam, jangan ditolak,” kata Didin.

Ia berharap prinsip pelayanan tersebut dapat terus dipertahankan sehingga rumah sakit benar-benar menjadi fasilitas kesehatan yang memberi manfaat bagi masyarakat luas.

“Karena ini merupakan apa, Rumah Sakit Umat. Dari umat, dari masyarakat, untuk masyarakat, dan dikembalikan pada masyarakat,” ujarnya.

Anggota Komisi IX DPR RI Dokter Gamal Albinsaid mengapresiasi inisiatif Rumah Sakit Wakaf. Menurut dia, program tersebut dapat membantu pemerintah menyediakan layanan kesehatan yang inklusif, berkualitas, dan terjangkau.

Gamal menilai, rumah sakit berbasis wakaf memiliki nilai pembeda karena tidak hanya menyediakan pelayanan medis, tetapi juga membawa misi kepedulian sosial.

Sementara itu, aktor Arie Untung menyebut program tersebut sebagai harapan bagi masyarakat yang membutuhkan pertolongan kesehatan tanpa dibebani kekhawatiran berlebihan mengenai biaya.

Ia berharap pengembangan rumah sakit berbasis wakaf dapat menjadi inspirasi bagi lahirnya berbagai solusi sosial lainnya di Indonesia.

Arie juga mengajak masyarakat berpartisipasi dalam penggalangan wakaf agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas, sekaligus menjadi amal jariyah bagi pihak-pihak yang terlibat.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × three =