Perkuat Keterampilan Digital, Kemenag Luncurkan Program Santri Matic di Solo

 Perkuat Keterampilan Digital, Kemenag Luncurkan Program Santri Matic di Solo

Direktur Jenderal Pesantren Kemenag Basnang Said saat membuka pelatihan Santri Matic di Pondok Pesantren Al-Muayyad, Solo, Sabtu (31/10/2026). (Foto: Dok. Kemenag)

Solo (Mediaislam.id)–Kementerian Agama (Kemenag) resmi membuka program Santri Matic (Santri Melek Teknologi) di Pondok Pesantren Al-Muayyad, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (31/10/2026). Langkah ini ditujukan untuk membekali para santri dengan keterampilan teknis dan digital agar mampu membuka peluang usaha mandiri serta bersaing di bursa kerja.

​Program ini terwujud lewat kolaborasi lintas sektor antara Kementerian Agama, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) wilayah Surakarta, serta menggandeng platform niaga elektronik Shopee Indonesia. Pelatihan tersebut mencakup optimalisasi fitur Shopee Marketplace, promosi daring, ShopeeFood, program afiliasi, hingga produksi konten video kreatif.

​Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, menyatakan bahwa karakter dan nilai dasar santri sejatinya telah terbentuk kuat. Namun, penguasaan keterampilan teknis dan adaptasi teknologi masa kini mutlak dibutuhkan agar santri tidak tertinggal.

​“Santri itu soft skill-nya sudah kuat, santri tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, dan perdagangan elektronik,” tegas Basnang dalam sambutannya di Solo, Sabtu (31/10/2026), dikutip dari laman Kemenag.

​Basnang menekankan pentingnya santri memperluas wawasan keilmuan tanpa meninggalkan identitas keagamaan. “Kita ingin santri tidak hanya pandai membaca kitab, tetapi juga mampu membaca perkembangan zaman,” lanjutnya.

​Menurutnya, akselerasi literasi teknologi ini justru memperkokoh fondasi keagamaan yang mengakar di lingkungan pesantren. Ia menegaskan, modernisasi kemampuan digital harus berjalan seiring dengan akhlak santri.

​“Prinsipnya sederhana, santri harus kuat dalam ilmu agama, unggul dalam ilmu pengetahuan, cakap dalam teknologi, mandiri dalam ekonomi, dan mulia dalam akhlak,” ungkap Basnang.

​Guna menopang pengembangan keterampilan tersebut, Basnang menyoroti potensi infrastruktur vokasi yang sudah tersebar di berbagai pesantren. Kemenag berupaya menggandeng kementerian lain untuk merevitalisasi fasilitas pelatihan yang belum beroperasi optimal.

​”Berdasarkan data Kemenag, sekitar 4.000 pesantren memiliki Balai Latihan Kerja (BLK) dan sekitar 800 SMK berbasis pesantren. Fasilitas itu dapat dipakai untuk pelatihan fesyen, membatik, hingga pembuatan mesin,” jelas Basnang.

​Inisiatif Santri Matic diharapkan bermuara pada terbangunnya ekosistem kewirausahaan digital di pesantren. “Dengan demikian, santri tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menjadi pencipta lapangan kerja,” kata Basnang.

​Kendati demikian, Basnang mengingatkan para santri untuk tetap mengedepankan etika Islam dalam memanfaatkan teknologi dan berniaga di ruang digital, khususnya menjaga nilai kejujuran, amanah, tanggung jawab, profesionalitas, dan keadilan.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 + eighteen =