Santri, Yuk Tunjukkan Karya di Santrivision 2026
Jakarta (Mediaislam.id)–Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) RI menyelenggarakan “Lomba Santrivision 2026”. Ajang yang mengusung tema “Santri Membaca Zaman: Kebudayaan, Inovasi, dan Narasi Masa Depan Pesantren” ini menjadi bagian dari rangkaian Peringatan Hari Santri Nasional 2026, sekaligus wujud artikulasi gagasan santri menyambut berdirinya Ditjen Pesantren sebagai entitas eselon I yang mandiri di Kemenag.
Direktur Jenderal Pesantren Kemenag, Basnang Said, mengajak seluruh jajaran Kantor Wilayah Kemenag, Kemenag tingkat Kabupaten/Kota, serta pimpinan dan pengasuh pesantren untuk menyosialisasikan sekaligus mendorong keterlibatan santri di wilayahnya masing-masing.
“Santrivision dirancang sebagai wadah eksplorasi nalar kritis, kreativitas, dan inovasi santri dalam merespons dinamika zaman,” ujar Basnang Said di Jakarta, Rabu (23/9/2026), dikutip Mediaislam.id dari laman Kemenag.go.id.
Melalui ajang ini, Kemenag berharap gagasan dan karya santri tidak sekadar berakhir sebagai pemenuhan tugas akademik atau produk kompetisi semata. Karya-karya tersebut diarahkan agar mampu berkembang menjadi rancangan kebijakan (policy brief), produk audio-visual, hingga inovasi teknologi yang memiliki manfaat riil dan luas bagi masyarakat serta dunia pesantren.
“Yang ingin dibangun bukan sekadar kompetisi, tetapi ekosistem yang mempertemukan riset, kreativitas, teknologi, tradisi keilmuan pesantren, dan kebutuhan nyata masyarakat,” sebut Basnang.
Terdapat tiga kategori utama yang diperlombakan dalam Santrivision 2026. Pertama, bidang naskah, kebijakan, dan komunikasi ilmiah. Kedua, bidang audio-visual, seni visual, dan media digital. Ketiga, inovasi digital dan teknologi pesantren. Basnang menjelaskan bahwa ada ketentuan khusus bagi tim yang ingin berpartisipasi.
“Setiap tim terdiri atas 2–3 santri aktif dari pesantren yang sama dan wajib didampingi seorang pembimbing dari pesantren yang bersangkutan. Peserta juga harus berasal dari pesantren yang memiliki NSPP dan terdaftar dalam EMIS,” tegas Basnang.
Sementara itu, Kasubdit Pendidikan Salafiyah dan Kajian Kitab Kuning Kemenag, Yusi Damayanti, menambahkan bahwa nilai tambah utama dari Santrivision 2026 adalah adanya tahapan pendampingan berkelanjutan. Peserta yang lolos seleksi gagasan awal akan mengikuti klinik bimbingan (mentoring) bersama ahli yang terdiri dari periset, praktisi media, hingga pengembang teknologi.
Finalis kemudian akan melakukan presentasi (pitching) di hadapan tim penilai lintas disiplin, dengan pemenang akan diumumkan pada puncak peringatan Hari Santri 2026.
“Khusus pemenang kategori “Policy Brief”, karya akan dihimpun dalam “Buku Putih Rekomendasi Santri” dan katalog produk inovasi untuk diserahkan kepada Menteri Agama. Langkah ini menunjukkan bahwa gagasan santri diarahkan untuk dapat menjadi bagian dari khazanah rekomendasi dan pengembangan kebijakan pesantren,” jelas Yusi Damayanti.
Pendaftaran Lomba Santrivision 2026 telah dibuka secara daring mulai tanggal 23 September hingga 15 Oktober 2026. Seluruh karya dan dokumen pendaftaran dapat dikirimkan melalui alamat pos-el resmi panitia di santrivision2026@kemenag.go.id.
Beberapa fokus tematik yang menjadi sorotan perlombaan tahun ini meliputi keadilan iklim dan ketahanan pangan, ruang aman dan kesehatan mental santri, pemanfaatan kecerdasan buatan (generative AI), kemandirian ekonomi dan rantai pasok halal, hingga internasionalisasi pesantren dan diplomasi kultural.*
