Perempuan Berdaya Dinilai Kunci Penguatan Kesehatan Keluarga Asia Pasifik
Jakarta (Mediaislam.id)–Pemberdayaan perempuan melalui pendidikan dan peningkatan kapabilitas di bidang kesehatan dinilai menjadi kunci dalam memperkuat kesehatan keluarga sekaligus pembangunan manusia di kawasan Asia Pasifik.
Hal itu mengemuka dalam pembahasan Komisi 2 bertema Perempuan, Pendidikan dan Kesehatan pada Konferensi Keluarga Asia Pasifik di Jakarta, Sabtu (12/9/2026).
Komisi 2 menghadirkan Prof. Dr. Dumilah Ayuningtyas, M.A.R.S. dari Indonesia dan Asst. Prof. Dr. Sarinda Puti dari Thailand. Diskusi tersebut dimoderatori Dini Rahma Bintari, S.Psi., M.Psi., Ph.D.
Prof. Dumilah mengatakan kesehatan individu memiliki dampak berjenjang terhadap keluarga, masyarakat, hingga kemajuan bangsa. Karena itu, investasi kesehatan perlu dimulai dari lingkungan terdekat, terutama rumah tangga dan keluarga.
Menurut dia, upaya tersebut dapat dilakukan melalui promosi kesehatan dan pencegahan penyakit secara spesifik sejak tingkat keluarga.
Dalam pembangunan kesehatan, perempuan dinilai memiliki sejumlah peran strategis. Perempuan dapat berperan sebagai edukator pertama di rumah, pengelola nutrisi keluarga, duta kesehatan komunitas, pendukung kesehatan mental, pemimpin dan pembuat kebijakan, serta inovator di bidang kesehatan.
Sejalan dengan hal tersebut, Asst. Prof. Dr. Sarinda Puti menekankan pemberdayaan perempuan melalui pendidikan dan kesehatan merupakan investasi lintas generasi.
Menurut dia, pemberdayaan perempuan tidak cukup hanya dengan memberikan akses terhadap layanan publik. Perempuan juga perlu diperkuat kapabilitasnya agar mampu mengolah dan memanfaatkan pengetahuan secara efektif dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
Diskusi juga menyoroti sejumlah persoalan yang memengaruhi kesehatan keluarga, antara lain malnutrisi dan keterlambatan perkembangan anak. Karena itu, keberlanjutan layanan kesehatan perlu dibangun melalui pendekatan yang lebih menyeluruh.
Program lifelong learning, integrasi kesehatan mental pengasuh, serta pengasuhan berbasis shared responsibility dinilai perlu menjadi bagian dari arah kebijakan penguatan keluarga.
Lima Rekomendasi
Dari pembahasan tersebut, Komisi 2 merumuskan lima rekomendasi. Penguatan pengetahuan dan kapabilitas perempuan menjadi salah satu prioritas utama karena dinilai menjadi fondasi bagi pencapaian rekomendasi lainnya.
Pertama, meningkatkan kesadaran perempuan bahwa menjaga kesehatan merupakan bagian dari kewajiban seorang Muslim.
Kedua, meningkatkan pengetahuan perempuan agar memiliki kapabilitas dalam menjalankan perannya sebagai duta kesehatan keluarga.
Ketiga, meningkatkan peran perempuan dalam menyelesaikan persoalan kesehatan fisik dan mental bangsa.
Keempat, mendorong kebijakan berbagi peran dalam pengasuhan atau shared responsibility untuk meningkatkan kesehatan keluarga.
Kelima, mendorong pencegahan malnutrisi melalui promosi kesehatan dan upaya pencegahan sejak tingkat rumah tangga.
Rekomendasi tersebut ditujukan kepada pemerintah, organisasi masyarakat, akademisi, serta negara-negara anggota di tingkat nasional maupun regional.
“Kami menyerukan negara-negara Asia Pasifik memberikan pendidikan dan memberdayakan perempuan sebagai agen kesehatan dalam keluarga untuk menyelesaikan permasalahan kesehatan bangsa dengan berpijak pada nilai agama dan kearifan lokal masing-masing bangsa,” demikian rumusan Komisi 2.*
