Resiliensi Keluarga Dinilai Penting Hadapi Tantangan Global
Jakarta (Mediaislam.id)–Ketangguhan atau resiliensi keluarga dinilai menjadi salah satu kunci dalam menghadapi berbagai tantangan global. Keluarga sebagai institusi utama dalam kehidupan masyarakat dinilai perlu diperkuat agar mampu menghadapi perubahan sosial, ekonomi, budaya, dan nilai yang semakin kompleks.
Hal tersebut mengemuka dalam Asia Pacific Family Conference yang digelar di Jakarta, Sabtu (12/9/2026). Isu resiliensi keluarga dalam menghadapi tantangan global menjadi salah satu topik yang dibahas dalam konferensi tersebut.
Pemerhati keluarga dan peneliti INSISTS Jakarta, Dinar Dewi Kania, mengatakan keluarga merupakan institusi suci atau nidzam Ilahi yang menjadi benteng pertama dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif dari luar.
Menurut dia, keluarga saat ini menghadapi beragam tantangan yang dapat mengancam keberlangsungan institusi keluarga. Tantangan tersebut antara lain persoalan pernikahan, perilaku menyimpang, adiksi pornografi, hingga degradasi nilai agama.
Dinar juga menyoroti perubahan pandangan sosial terhadap isu keluarga dan seksual di sejumlah negara. Ia menyebut terdapat 40 negara yang telah menormalisasi LGBT.
“Ancaman lain yang dihadapi keluarga adalah sekularisasi bahasa, legislasi internasional dan perubahan demografi. Hal ini sering kali menjadi ancaman yang besar bagi keluarga,” kata Dinar.
Karena itu, dia menilai penguatan resiliensi keluarga membutuhkan langkah strategis melalui advokasi hukum dan kebijakan. Selain itu, basis akademik dan keagamaan juga diperlukan untuk memperkuat ketahanan keluarga.
Sementara itu, Kepala Unit Centre for Public Mental Health Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Diana Setiyawati, mengatakan pola siklus hidup keluarga saat ini mengalami perubahan drastis. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan global yang perlu mendapat perhatian.
Salah satu persoalan yang disoroti Diana adalah berkurangnya peran ayah dalam pengasuhan keluarga. Tekanan ekonomi, pekerjaan yang berpindah, hingga perceraian dapat memengaruhi keterlibatan ayah dalam kehidupan keluarga.
Menurut Diana, persoalan ekonomi juga dapat menggeser peran ayah di dalam keluarga dan berpotensi berdampak pada kesehatan mental anggota keluarga.
Ia menegaskan keberadaan ayah tetap memiliki peran penting dalam membangun keluarga yang tangguh, meskipun keluarga menghadapi berbagai perubahan dalam kehidupan.
“Resiliensi bukan urusan mikro. Keluarga akan jadi aset masyarakat jika berfungsi dengan baik dan tentunya akan mendapat dukungan,” ujar Diana.
Diana menambahkan, keluarga perlu terus belajar karena perubahan di dalam keluarga berlangsung secara dinamis. Karena itu, penguatan ketahanan keluarga tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga, tetapi juga membutuhkan dukungan negara dan berbagai elemen masyarakat.
“Keluarga harus sekolah terus-menerus karena perubahan di dalam keluarga senantiasa mengalami perubahan. Negara ikut berperan penting dalam membentuk resiliensi keluarga dalam menyusun kebijakan,” katanya.
Dia juga menilai keterlibatan lembaga-lembaga perempuan, akademisi, hingga majelis taklim dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat ketangguhan keluarga di tengah berbagai tantangan global.*
