PBKM Dorong Penguatan Peran Perempuan untuk Ketahanan Keluarga Asia Pasifik

 PBKM Dorong Penguatan Peran Perempuan untuk Ketahanan Keluarga Asia Pasifik

Jakarta (Mediaislam.id)–Pusat Belajar Keluarga Madani (PBKM) mendorong penguatan peran dan kepemimpinan perempuan sebagai bagian penting dalam membangun ketahanan keluarga dan kemajuan masyarakat di kawasan Asia Pasifik.

Hal tersebut mengemuka dalam konferensi bertema “Resiliensi Keluarga dan Kemajuan Negara-Negara Sekawasan: Menguatkan Peran dan Kepemimpinan Perempuan di Asia Pasifik” yang digelar PBKM di Jakarta, Sabtu (12/9/2026).

Konferensi tersebut diikuti peserta dari sejumlah negara, antara lain Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Sri Lanka, Filipina, dan Thailand. Forum ini membahas arah kebijakan serta langkah konkret untuk memperkuat ketahanan keluarga di kawasan Asia Pasifik.

Ketua PBKM, Dr Aan Rohana, Lc, M.Ag, mengatakan perempuan memiliki peran strategis dalam menentukan kualitas generasi, keluarga, masyarakat, hingga bangsa. Karena itu, penguatan kapasitas perempuan perlu menjadi perhatian bersama.

“Perempuan harus berperan sebagaimana berperannya laki-laki. Karena perempuan merupakan saudara kandung laki-laki. Perempuan menentukan kualitas manusia, sebagai penstabilitas keluarga, masyarakat, dan bangsa,” ujar Aan.

Dalam diskusi panel mengenai “Peran Perempuan di Keluarga dan Masyarakat”, Aan bersama Prof Dr H Achmad Satori Ismail membahas peran perempuan pada berbagai fase kehidupan, mulai sebelum menikah, setelah menikah, hingga ketika berperan di tengah masyarakat.

Prof Satori menekankan pentingnya kerja sama antara suami dan istri dalam membangun keluarga yang bahagia dan sakinah. Menurut dia, sakinah dapat terwujud ketika pasangan mampu menjalankan kehidupan rumah tangga secara bersama-sama.

“Untuk membahagiakan keluarga, perlu satu kesatuan. Sakinah itu penting. Dapat tercapai ketika suami istri dapat bekerja sama dengan baik,” katanya.

Ia menjelaskan, mawaddah menjadi salah satu sarana menuju kehidupan keluarga yang sakinah. Menurut dia, kasih sayang dalam rumah tangga tidak semestinya berhenti ketika usia dan kondisi fisik pasangan berubah.

“Mawaddah merupakan sarana untuk sakinah. Baik ketika sudah muda, masih cantik, masih saling cinta, atau ketika sudah tua tetap sakinah karena ada rahmah,” ujar Prof Satori.

Konferensi juga menyoroti berbagai kerentanan yang dihadapi perempuan dan keluarga di kawasan Asia Pasifik. Di antaranya dampak krisis iklim, ketidakstabilan ekonomi, serta minimnya perlindungan hukum.

Selain itu, rendahnya akses terhadap pendidikan dan kesehatan serta perlunya penguatan pemahaman keagamaan perempuan menjadi sejumlah persoalan yang dinilai berpengaruh terhadap masa depan perempuan dan ketahanan keluarga di beberapa negara.

Salah seorang peserta dari organisasi Alisa Khadijah, Asmita, mengusulkan adanya women center yang dapat diakses perempuan secara gratis. Menurut dia, perempuan yang telah menikah tetap membutuhkan dukungan dalam berbagai aspek kehidupan.

“Berharap ada women center yang dapat diakses gratis. Karena perempuan yang sudah menikah perlu dukungan dalam segala aspek,” katanya.

Ia juga menilai perempuan perlu mendapatkan akses terhadap pendidikan dan penguatan ekonomi, sehingga tetap memiliki kapasitas pendapatan tanpa menghilangkan peran keluarga yang menjadi tanggung jawab bersama.

Peserta lainnya mengingatkan adanya tantangan laten berupa perubahan ideologi dan pemikiran yang terus berkembang. Tantangan tersebut dinilai perlu diantisipasi, terutama berkaitan dengan menurunnya kualitas peran laki-laki sebagai qawwam dalam keluarga.

“Ini ada satu tantangan yang laten, tantangan ideologis dan pemikiran. Berkembang dan selalu terbarukan. Perlu mengantisipasi karena efek menurunnya kualitas peran laki-laki sebagai qawwam,” ujar peserta tersebut.

Di akhir konferensi, peserta menyusun sejumlah rekomendasi sebagai acuan untuk langkah konkret memperkuat ketahanan keluarga di kawasan Asia Pasifik.

Rekomendasi tersebut antara lain mendorong penguatan regulasi, penyediaan layanan konseling keluarga, pengembangan gerakan edukasi keayahan, serta pembentukan kerangka ketahanan keluarga regional Asia Pasifik.

Kerangka tersebut diharapkan dapat memperkuat perlindungan terhadap hak perempuan sekaligus membangun ekosistem pendukung yang mampu memperkokoh ketahanan keluarga di kawasan.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 − 3 =