Jaga NKRI, Gus Kikin Paparkan Pentingnya Al-Qanun Asasi Karya Mbah Hasyim
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin)
Jakarta (Mediaislam.id)-Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH. Abdul Hakim Mahfudz menegaskan pentingnya Al-Qanun Al-Asasi sebagai dokumen krusial sekaligus ruh bagi perjuangan Nahdlatul Ulama (NU).
Pria yang biasa disapa Gus Kikin itu menjelaskan Al-Qanun Al-Asasi sudah lama tidak dimunculkan dan digunakan dalam kehidupan organisasi NU. Dalam tiga tahun terakhir, dirinya berupaya mengumpulkan dan menyusun kembali berbagai dokumen Qanun Asasi yang terdiri atas empat bab.
“Qanun Asasi itu sudah lama tidak muncul, lama tidak digunakan. Di tiga tahun terakhir ini kita mendapatkan semua dokumen Qanun Asasi ini, empat bab, dan itu disusun. Kemudian sekarang ini kita perkenalkan, kita sosialisasikan Qanun Asasi di Gedung MPR,” ujar Gus Kikin dalam keterangannya di Jakarta, Ahad (09/08/2026).
Al-Qanun al-Asasi (Undang-Undang Dasar) adalah kitab risalah dasar atau konstitusi ideologis yang disusun oleh Hadratussyekh Hasyim Asy’ari.
Kitab tersebut, kata dia, menjadi fondasi ruhaniah, pemikiran, dan pedoman perjuangan bagi warga NU.
“Al Qanun Asasi itu merupakan dokumennya NU yang dulu disusun dari awal berdirinya NU. Qanun Asasi itu merupakan ruh daripada NU,” katanya.
Pengasuh Ponpes Tebuireng sekaligus Ketua PWNU Jawa Timur (Jatim) itu menjadi satu dari sejumlah tokoh yang digadang-gadang bakal maju dalam bursa calon Ketua Umum (Ketum) PBNU.
Selain Gus Kikin, nama-nama lain yang mencuat yakni Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Marsudi Syuhud dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Nama Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), serta Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon KH Imam Jazuli juga turut meramaikan bursa.
Sebelumnya, Ketua MPR RI Ahmad Muzani menilai Qanun Asasi NU menjadi landasan pemikiran organisasi dalam menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Muzani mengatakan Qanun Asasi penting dipahami dalam konteks perjalanan NU yang berdiri pada 1926 dengan perhatian terhadap persoalan keumatan dan kebangsaan.
“Kalau hari ini kemudian membicarakan tentang Qanun Asasi, itu sesuatu yang sangat mendasar bagi perjuangan kita semua sebagai bangsa,” kata Muzani.
Menurut dia, Qanun Asasi yang disusun KH Hasyim Asy’ari pada tahun 1926 lahir ketika dunia Islam menghadapi perubahan geopolitik. Perubahan besar tersebut terjadi setelah runtuhnya Kekhalifahan Utsmaniyah.[]
