Infokom MUI DKI: Sesat Map Masih Bisa Diselamatkan, Sesat Digital Dampaknya Panjang

 Infokom MUI DKI: Sesat Map Masih Bisa Diselamatkan, Sesat Digital Dampaknya Panjang

Jakarta (Mediaislam.id)–Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi (Infokom) MUI DKI Jakarta, Dr Faiz Rafdhi, M.Kom mengingatkan bahaya penyebaran hoaks dan disinformasi di era digital yang dinilainya jauh lebih berbahaya dibanding sekadar tersesat karena kesalahan navigasi.

Hal itu disampaikan Faiz saat memberikan sambutan pada Workshop “Mengenali Hoaks: Fact Checking” yang digelar MUI DKI Jakarta di D’Arcici Hotel Sunter, Jakarta Utara, Kamis (6/8/2026).

Menurut Faiz, kesalahan mengikuti peta digital masih dapat diperbaiki dalam waktu singkat. Namun, informasi palsu yang beredar di ruang digital dapat menyesatkan masyarakat dalam jangka panjang, bahkan menyangkut persoalan agama.

“Saya pernah tersesat karena mengikuti map yang salah. Acara akhirnya molor empat jam. Sesat map masih bisa diselamatkan. Tapi bagaimana kalau sesat digital? Misinformasi dan disinformasi bisa menyesatkan orang dalam urusan dunia hingga akhirat,” kata Faiz.

Ia menjelaskan, masyarakat perlu membedakan antara hoaks dan fake news. Menurutnya, hoaks merupakan informasi yang tidak jelas sumber dan kebenarannya, sedangkan fake news merupakan berita palsu yang dikemas menyerupai produk jurnalistik sehingga tampak berasal dari media resmi.

Faiz juga memaparkan berbagai bentuk hoaks yang banyak beredar di media sosial, mulai dari misleading content, deepfake, konten tiruan, informasi lowongan kerja palsu, manipulasi gambar dan video, hingga urban legend yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian publik.

“Di era kecerdasan buatan (AI), video maupun suara seseorang sangat mudah dimanipulasi. Karena itu masyarakat harus semakin kritis sebelum mempercayai dan menyebarkan sebuah informasi,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat membiasakan budaya tabayun dengan memeriksa sumber informasi, identitas narasumber, alamat situs, tanggal publikasi, serta membandingkannya dengan sumber resmi sebelum membagikan kepada orang lain.

Faiz juga mengutip metode verifikasi ala Socrates yang menguji setiap informasi berdasarkan tiga hal, yakni kebenaran, kebaikan, dan manfaat. Selain itu, menurutnya, tradisi keilmuan Islam juga telah mengenal mekanisme verifikasi melalui pemeriksaan sanad, matan, dan kredibilitas perawi hadis.

“Jangan langsung sharing sebelum saring. Informasi harus diuji akurasinya, kelengkapannya, dan relevansinya, baik dari sisi waktu, tempat, maupun pihak yang menyampaikannya,” ujar Faiz.

Ia menambahkan, workshop tersebut merupakan bagian dari upaya MUI DKI Jakarta memperkuat literasi digital sekaligus mendorong implementasi fatwa MUI terkait fenomena deepfake.

“Tujuan kita hari ini adalah menyalakan semangat iqra, telaah, dan tabayun di era digital. Data harus berbicara, hoaks harus diperiksa,” kata Faiz.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 + fifteen =