Kehidupanku
Ilustrasi: Seorang anak belajar membaca Al-Qur’an bersama ayahnya. [AI]
AKU menikah dengan sandaran sepenuhnya pada imajinasi, bukan pada realitas. Imazinasilah yang melukiskan potret tentang istriku, wataknya, dan sifat-sifatnya.
Dalam membayangkan hal itu, aku bersandar pada cerita para wanita yang pernah melihatnya secara langsung. Imajinasilah pula yang melukis potret kehidupan masa depanku.
Aku membangun ekspektasi itu berdasarkan apa yang kudengar dari kisah orang-orang yang bahagia maupun yang sengsara dalam pernikahan mereka. Di samping itu, aku juga bersandar pada apa yang kubaca dari buku-buku berbahasa Inggris mengenai kehidupan rumah tangga.
Namun, alangkah jauhnya perbedaan antara kenyataan dan imajinasi. Imajinasi melukiskan keindahan seraya terbang bebas di angkasa, sedangkan kenyataan berpijak kuat di bumi serta terikat oleh lingkungan, ruang, dan waktu.
Ada sebuah kisah yang menimpa salah seorang sahabatku yang selalu mengingatkanku pada jurang pemisah antara fantasi dan realitas ini. Suatu hari, aku bepergian bersama sahabatku itu ke kota Iskandariyah.
Aku mahir berenang sedangkan dia sama sekali tidak bisa. Maka, dia pergi ke perpustakaan untuk membeli sebuah buku berbahasa Inggris tentang panduan berenang.
Dia terjaga sepanjang malam demi menuntaskan buku tersebut hingga menguasai teori dan metode berenang dengan baik. Berbekal teori itu, dia merasa sangat yakin bahwa dirinya sanggup mengalahkan perenang paling mahir sekalipun.
Namun, begitu kami turun langsung ke laut, seluruh teori dan ilmunya seketika menguap tanpa bekas. Wajahnya berubah pucat, tubuhnya gemetar panik, dan dia nyaris saja tenggelam.
Aku pun menemui istriku dan memuji Allah atas karunia yang telah Dia berikan kepadaku. Perlahan, aku mulai mengenali sifat-sifatnya yang tampak hari demi hari setiap kali ada momentum atau kejadian baru.
Hal pertama yang mengezutkan istriku adalah kepribadianku yang sangat tenang, kurang jenaka, dan irit bicara. Padahal, dia terbiasa tumbuh besar di dalam rumah yang penuh keceriaan, gelak tawa, kebahagiaan, serta riuh dengan obrolan.
Dia sempat mengira bahwa aku menyesal telah menikahinya. Aku berulang kali meyakinkannya bahwa ini adalah karakter asliku yang terbentuk dari lingkungan keluargaku dahulu.
Dia baru memercayai penjelasanku setelah waktu yang cukup lama berlalu. Keyakinan itu muncul setelah dia menyadari bahwa tabiat diamku ini tidak hanya terjadi kepadanya saja, melainkan kepada orang lain juga.
