Ibadah Haji Aktualisasi Semangat Ukhuwah Islamiah
Ilustrasi: Jamaah haji sedang melakukan wukuf di Arafah.
Aceh Besar (mediaislam.id)–haji adalah aktualisasi pembuktian semangat ukhuwah islamiah, tidak hanya dalam bentuk jiwa, tapi juga raga karena telah dipertemukan oleh Allah dalam satu tempat, maksud dan tujuan yang sama. Ibadah haji dikerjakan dengan bacaan yang sama hingga pakaian ihram yang sama pula. Tak ada juga perbedaan suku, ras, warna kulit, bahasa, pangkat, kedudukan dan sebagainya, semua harus menunaikan ibadah haji dengan ketentuan-ketentuan yang sama.
Dosen STAI Tgk Chiek Pante Kulu Banda Aceh, Ustaz Mursalin Basyah, Lc MAg menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Besar Al Jihad Kecamatan Montasik, 17 April 2026 bertepatan dengan 28 Syawal 1447 Hijriah.
Ia menguraikan lebih lanjut, dari semangat ukhuwah ini, kaum muslimin seharusnya semakin menyadari bahwa seorang haji semestinya lebih hebat semangat ukhuwah dalam upaya menegakkan agama Allah di muka bumi ini.
Ibadah haji memiliki dimensi persatuan yang luar biasa dan sangat aktual. Pada pelaksanaan ibadah itu, seluruh umat Islam di dunia bersatu, beribadah bersama, dengan niat yang sama. Ini membuktikan, persatuan di tubuh umat Islam bukan perkara mustahil. Spirit yang terus melekat di tengah umat Islam ini, terutama dalam momen ibadah haji, menjadi modal kuat untuk merajut persatuan.
Menurutnya, persaudaraan yang dimaksudkan bukan menurut ikatan keturunan belaka tetapi lebih pada ikatan iman dan agama dalam universalitas bangsa-bangsa dunia. Persaudaraan dan persatuan ini juga bukan eksklusif internal satu aliran dan madzhab, tetapi universal dalam lintas batas madzhab. “Perbedaan madzhab boleh saja terjadi dan memang tidak dapat dihindari, namun yang terpenting perbedaan itu tidak membuat bercerai-berai,” tegasnya.
Perbedaan itu justru diharapkan menjadi rahmat sebagaimana dikatakan hadits atau atsar, bukan menjadi adzab. Perbedaan yang menjadi rahmat ini diharapkan terjalin sebagai jaringan sosial yang saling bersinergi.
“Betapa indah, ketika kita menemukan keharmonian yang sempurna dalam tubuh ummat ini. Saling mengasihi, saling tolong menolong dan saling menguatkan satu sama lain. Bersama dan larut dalam duka dan suka saudara-saudaranya seiman,” ujar Ustaz Mursalin.
Pada bagian lain khutbahnya, Anggota Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh ini menjelaskan, menunaikan ibadah haji yang merupakan rukun Islam terakhir dambaan bagi setiap muslim. Ibadah yang diwajibkan pada tahun keenam kenabian ini merupakan ibadah yang membutuhkan ekstra energi yang menyeluruh, mulai dari persiapan sebelum berangkat, berangkat dan tiba di tanah suci, melaksanakan syarat dan rukun haji.
“Para jamaah haji berdatangan dari segala penjuru di dunia dengan aneka perbedaan. Baik dari segi ras, warna kulit, kebangsaan, hingga mazhab keagamaan. Kendati begitu, ibadah haji justru mempersatukan dan menyetarakan mereka semua dalam satu kondisi ruhani, yaitu sebagai hamba Allah Swt,” ungkapnya.
Seluruh jamaah haji, tanpa kecuali, melakukan ibadah haji dengan niat yang khusus dan di tempat-tempat yang telah ditentukan syariat Islam. Terdapat pula pelbagai bacaan yang wajib dilantunkan, keharusan melakukan tawaf dan sa’i, mengenakan pakaian khusus, dan melaksanakan pelbagai kewajiban lainnya.
“Kesamaan secara simbolik ini merupakan pesan yang sangat gamblang kepada umat Islam bahwasanya dalam kehidupan sosial umat juga seharusnya menghadirkan keseragaman tersebut,” pungkas Wakil Ketua Himpunan Ulama Dayah (HUDA) Kota Banda Aceh ini.*
